Monday, March 03, 2008

Buku Referensi Petroleum Contract

Dari Tagboard, Agus Salim: Mas Benny, saya sedang menyusun disertasi (S3)dengan judul: "Pengusahaan Migas di Indonesia: Tinjauan Kritis Atas Bentuk-Bentuk Kontrak di Bidang Kegiatan Usaha Hulu Migas dalam Konteks Pasal 33 UUD 1945. Mohon informasi mengenai literatur yang membahas bentuk-bentuk kontrak di dunia industri migas, selain bukunya Daniel Johnston. Mar.03.08 04:30 AM
-------

Selain buku best seller-nya Daniel Johnston ”International Petroleum Fiscal System and PSC" (1994), ada beberapa buku yang membahas bentuk kontrak migas. Kebanyakan terbitan lama, tapi isinya sebenarnya malah lebih detail. Kalau bukunya Daniel, sangat bagus sebagai introduction, tapi ketika perlu detail, nggak banyak info tersedia disana.

Coba aja dicari beberapa buku dibawah ini, mudah mudahan masih ada yang jual..
--------

Michael Bunter, “The Promotion & Licensing of Petroleum Perspective Acreage”, Kluwer Law International, 2002

Raymond F Mikesell, “Petroleum Company Operations & Agreements in the Developing Countries”, Resources for the Future, 1984

Nicky Beredjick and Thomas Walde (editors), “Petroleum Investment Policies in Developing Countries”, Graham Trotman Limited, 1988

Alexander Kemp, “Petroleum Rent Collection around the World”, The Institute of Research and Public Policy, 1987

Kamal Hossain, “Law and Policy in Petroleum Development; Changing Relations between Transnational and Governments”, Nichols Publishing Company, 1979

Martyn R. David, “Upstream Oil and Gas Agreements”, Sweet & Maxwell, 1996

Anthony Jennings, “Oil and Gas Exploration Contract”, Sweet & Maxwell, 2002

Daniel Johnston, “International Exploration Economics, Risk, and Contract Analysis”, PennWell, Tulsa, 2003

Amr Rezk, “Economic Modeling for Upstream Petroleum Projects”, Trafford Publishing, 2006

Bernard Taverne, “Petroleum, Industry and Governments: An Introduction to Petroleum Regulation, Economics and Government Policies”, Kluwer Law International Ltd, 1999

Zhiguo Gao, “International Petroleum Contracts: Current Trends and New Directions”, Kluwer Academic Publisher, 1994
---------

Kalau untuk yang paling update, bisa juga Pak Agus berlangganan OGEL (Oil, Gas and Energy Law), disana banyak paper yang tersedia, bisa diintip dulu judul judul papernya, dengan meng klik nama author-nya disini.

Saturday, March 01, 2008

Minas, ORB, DMO, CBM, etc..

reza: Salam kenal mas benny,bahas lagi dong mengenai kebijakan DMO bagi kontraktor. menurut hitung2ang saya jika 25% dari split bagi hasil minyak kontraktor dihargai dengan harga discount oleh pemerintah maka bukannya akan mempengaruhi hasil split akhirnya yah? apa ntarnya ada adjustment lagi supaya hasil split tetap sebesar 85:15? kebetulan saya sedang mengerjakan skripsi mengenai kebijakan DMO ini. Saya minta bahan2 tentang DMO ini sama kontrak2 PSC indonesia dari generasi 1s/d4 via email saya reza.adriawan@gmail.com.trims Mar.01.08 08:31 AM

Hai reza, nggak ada adjustment lagi after DMO (supaya balik lagi ke 85:15), emang efeknya akan membuat “gov take” bertambah, (misalnya, jadi 86: 14). Bahan kayanya nggak terlalu banyak yang berupa soft file, tapi ada beberapa, nanti saya kirim.

ade: Bung Benny,salam kenal... Saya mo tanya nich, boleh ya... Apa sich bedanya harga minyak mentah ICP, Minas dan Basket OPEC? Thx b4. Feb.28.08 04:49 AM

Ade, untuk ICP lihat sini, Minas karena produksi terbesar, ya anggap aja kaya “benchmark”nya minyak kita. OPEC Reference Basket (ORB) adalah rata rata tertimbang dari harga miyak negara anggota, bobotnya berdasarkan produksi. Patokan harga minyak yang dipakai, sbb: Saharan Blend (Algeria), Girassol (Angola), Minas (Indonesia), Iran Heavy (Iran), Basrah light (Iraq), Kuwait Export (Kuwait),Es Sider (Libya), Bonny Light (nigeria), Marine (Qatar), Arab Light (Saudi), Murban (UEA), BCF-17 (Venezuela). Karena ada anggota baru (Ekuador), maka nanti akan ditentukan minyaknya yang akan dijadikan patokan (untuk dimasukkan ke formula ORB).

Harga minyak masing masing negara tersebut ada yang dihitung berdasarkan formula tertentu, ada yang langsung diambil dari platt assesment, termasuk Minas. Harga Minas lebih besar dari ORB, Misalnya untuk Feb 28, Minas = 98.85 US $ pe barrel, ORB = 94.99 US$ per barrel.



Martinus: Mas Benny, very interesting coverage untuk CSR cost. CSR di beberapa negara lain adalah suatu isu yang lekat dengan bribery. Di beberapa aturan pasar modal di negara berkembang, perusahaan listing di bursa tidak boleh membayarkan bribe. So, supaya CSR ini tidak menjadi plesetan, sebaiknya pemerintah mensosialisasikan ke beberapa pasar modal luar negeri supaya program CSR ini dapat berjalan dengan lancar. Sekian and terima kasih. Feb.27.08 10:56 AM

Thanks bang Martinus, masalah bribery memang kadang kadang abu abu.. ada kolega yang cerita, beberapa expat pas baru datang, heran melihat “praktek” atau “kebiasaan” yang sudah dianggap hal yang rutin (contoh kecil kaya: kasih tip, uang jalan, etc..), dia tegas: “ itu masuk bribery.. jelas dilarang di company regulation!”. Tapi lama lama dia juga ikutan.. malah levelnya lebih parah & lebih kreatif..he he..


fifi: Mas Ben, mo tanya niy...kalo contractor bayar tax by inkind ke GOI, positif dan negatif impact-nya ke contractor dan GOI apa ya... Maturnuwun mas... Feb.27.08 03:47 AM

Dalam banyak praktek, kontraktor bayar inkind, ini untuk mempermudah dan kayanya “lebih fair”, jadi government (atau NOC) yang membayarkan pajak atas nama kontraktor, dengan demikian kontraktor terima net after tax. Karena konraktor perlu kepastian bahwa dia juga bayar pajak, supaya nggak dipajekin lagi di home country-nya. Eh bener nggak ya mbak fifi?, saya sich ngira2 aja.. nggak pernah bersentuhan langsung dengan urusan pajak... he he.


toni: Mas Benny, bahas donk ulasan tentang CBM dan contoh perhitungan keekonomian CBM. Maturnuwun. Feb.27.08 03:37 AM

Info tentang CBM masih limited, (katanya) mau ikutan model PSC, cuma split-nya jadi 50-50 (atau 55 -45?). Kalau split-nya doang berubah, maka hitungannya ya gampang aja sebenarnya…

Tuesday, February 26, 2008

Komentar dari Tag Board

Well: Selamat sore mas Benny. Mas privatisasi di Venezuela ternyata meninggalkan masalah, seperti kemenangan Exxon untuk membekukan 12 milliar dolar asset Venezuela di seluruh dunia. Kalau sudah seperti itu apakah masih bisa di-settle di luar sidang atau karena sudah keputusan arbitrase/pengadilan harus dilaksanakan? Dan bagaimana nasib privatisasi Venezuela selanjutnya? gagalkah? Feb.08.08 09:56 AM

Ceritanya masih akan panjang ini Mas well, kita monitor aja dulu..

adek: mas saya tertarik dengan ekonomi migas akibat tulisan mas saya mahasiswa Fisip dan teknik Industri saya tertarik dengan angka-angka mas bisa nggak mas kirimkan contoh perhitungan dan simulasi cost recovery,dan hubungan dengan lifting perhitungan fiskalnya dan gross revenuenya lalu pakai IRR dan probability tentang resikonya dan berkaitan dengan resiko di investasi migas mas...mohon mas untuk saya pelajari saya tertarik gara-gara tulisan mas ...,mas harus bertanggung jawab membuat saya jadi penasaran alamat e-mail di adektiusu@yahoo.com Feb.12.08 04:21 AM

adek: please dong mas simulasinya pakai excell sekalian neraca akutansi cost recoverynya....saya penasaran banget kepingin belajar otodidak, please......dong via e-mail ku...adektiusu@yahoo.com Feb.13.08 03:33 AM

adek, pengalaman saya kalau baca excel bikinan orang, bisa mabok sendiri, apalagi saya kalau bikin hitungan di excel, nggak user friendly, biasanya kalau file-nya dibuka lagi, lupa ini cell ngitung apaan sich, perlu waktu untuk di cek ulang lagi. Dari pengalaman ngajar kursus, yang paling safe adalah bikin sendiri…., saya bisa kasih flow chart-nya.

toni: Mas benny trims ya atas jawabannya yang soal KSO. Memang sih tidak ada transfer of interest di model KSO. Lalu landasan hukum nya ada ga ya kok di model KSO, kontraktor tidak bisa mem-book reserve tersebut? So, untuk company yang sudah public listing, jika company memang tidak bisa meng-claim reservenya maka model KSO sebenarnya kurang feasible donk ya untuk mereka yang public listing? Feb.12.08 08:56 AM

Kalau tujuannya untuk booking reserves mungkin ada benarnya, tapi bagaimanapun service contract khan ada value added nya juga.

ayub asyifudin: bung benny.. ada persolan dasar yg sering mengganngu saya.. Dengan sistem migas di indoensia, sepertinya kok negara tidak elegan dgn melakukan penjualan minyak (share GT) walaupun itu diwakilkan BP Migas skrg ini. Kalau konteksnya dulu, Pertamina yg jualan mungkin msh oke. Klo dari sdt pandang ekonomi rasanya tdk pas,penyelenggaran negara (apbn) dr berjualan minyak, apakah tidak lebih elegan dgn pengenaan pajaknya. sehingga jikaditarik ke fisosofi dasarnya dr pengusahaan migas, harusnya negara mendapatkan hasil dr tax nya bukan dari jualan migasnya.. gmn pendapat mas benny ? thanks ya mas. Feb.13.08 04:55 AM

Ada beberapa istilah, spt: lifting, fiscal elements (tax dan non tax), “petroleum valuation” dan siapa yang bertanggung jawab “dagang minyak”. Pada prakteknya, lifting pemerintah itu udah campur aduk antara komponen tax dan non tax. Perdagangan minyak itu juga amat sangat kompleks, tentu nggak bisa dilepas begitu saja, perlu “pihak” yang menjaga kepentingan pemerintah supaya bagian minyak yang dijual tidak “under pricing”.

Eri : Oom Ben, bahas sedikit dong mengenai mekanisme perhitungan bagi hasil utk LNG business, yg digabungkan dengan PSC calculation. tenkyu Feb.22.08 07:24 AM

Tanya sama yang ngurusin Tangguh tuh he he.. ntar deh tak cari bahannya dulu.

Danny: Bung Benny, Saya pernah ikut kursusnya David Johnston tahun lalu. Dia titip salam buat Anda. Feb.24.08 07:14 AM

Salam kembali, ikut course David yang dimana? Perth, Dubai, Dundee, Singapore, KL, Café Town.? Waduh enak juga ngajar kursus, keliling dunia..

Narindra: Pak, blog anda pas sekali dengan bidang saya... Sesekali boleh numpang ngisi artikel ya... Salam Feb.26.08 11:56 AM

Monggo, silahkan mas Narindra, kirim email aja, nanti saya posting khan..

Iwan PS: Sibuk ya mas?, saya denger sekarang lanjut kuliah lagi. Semoga sukses deh.. Feb.26.08 08:12 PM

Lumayan mas, yang penting diusahain bagi2 waktu yang pas lah: kantor, kampus, rekreasi

Monday, February 25, 2008

CD dan Cost Recovery

Berita mengenai (akan) dihapuskan (dikeluarkan) biaya Community Development (CD) dari mekanisme cost recovery menarik untuk disimak. Usulan pemerintah (dan beberapa pihak) tersebut memancing pro dan kontra. Kontra tentu datang dari perusahaan migas, logikanya: kalau dihapuskan, akan membebani (mengurangi) profit perusahaan.


Perusahaan migas juga complaint karena dengan adanya mekanisme cost recovery, seolah olah perusahaan tidak berpartisipasi untuk CD. Saya kira keluhan ini wajar, karena memang ada salah penafsiran. “Secara tidak langsung”, tentu perusahaan migas berkontribusi juga terhadap biaya CD, yaitu melalui “kerelaan” untuk berkurang bagian profitnya sebesar 15% dari biaya CD yang dikeluarkan.

Kemudian timbul pertanyaan: apa urusannya perusahaan migas (repot repot ngurusin) CD? apa “pantas” hanya berkontribusi 15% dari biaya CD?, kenapa pula 85% harus ditanggung negara?

Perdebatan bisa panjang kalau kita melulu melihat CD itu semata mata cost. CD merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR), yang kalau kita lihat definisi World bank kira kira begini: CSR as the commitment of business to contribute to sustainable economic development, working with employees, their families, the local community and society at large to improve their quality of life, inways that are both good for business and good for development.

Ada baiknya kita melihat juga bahwa CSR itu adalah “investasi”, karena investasi tentu diharapkan ada “return”. Dalam bahasa lain, implementasi CSR tentu sedikit akan meningkatkan biaya perusahaan, tapi “benefits” yang akan diperoleh dalam jangka panjang akan melampaui “costs” yang telah dikeluarkan. Investasi CSR tentu bersifat jangka panjang. Sebagai contoh: kalau kita keluar biaya untuk training, tentu benefitnya nggak langsung terasa dalam jangka pendek. Dalam konteks CD, contoh benefit yang akan dirasakan adalah reputasi perusahaan, jadi membangun reputasi itu bukan sesuatu yang gratis.

Tentu tidak bisa dipaksa (diharapkan) bahwa semua perusahaan harus berpartisipasi dalam semua aspek CD, setiap perusahaan punya strategi implementasi untuk memperoleh "CSR premium" tersebut. Karena ada CSR premium, timbul pertanyaan: “kenapa pula CD masuk cost recovery?”. Saya kira kalau perusahaan mengutamakan reputasi, nggak perlu repot repot berdebat (ini bisa masuk) cost recovery atau nggak, (bisa jadi zaman "bahuela" dulu kondisi ini "bisa diterima" karena isu CSR belum relevan). Kalau selama ini bisa masuk cost recovery, ya anggep saja lagi dapet diskon. “Kalau nggak masuk cost recovery, apa mau berhenti implementasi CD?” Saya yakin mestinya tidak, perusahaan migas ini kalibernya internasional, seyogyanya mereka mementingkan reputasi. Maka berlomba lombalah para perusaahan migas melakukan CSR, banyak studi menyebutkan, perusahaan yang punya CSR program yang baik, relatif akan lebih “sustain”. Kalau nggak percaya ya nggak apa apa, coba aja nggak usah perduli sama CD, bukankah (dalam jangka yang tidak terlalu panjang), costs-nya akan lebih muahal…??

Wednesday, February 20, 2008

Model progressive, apa itu?

Mas Dadang, tanya lewat email: Mas Ben, saya jadi bingung, makin lama model PSC makin banyak, ada yang pembagiannya pakai ROR, R/C dan lain lain, ada yang pakai production rate, harga minyak. Apakah dibanding dengan Service contract model seperti ini lebih bagus?. Terima kasih sebelumnya mas, mohon maaf terus digangguin nih.”

-----------------------

Jangan bingung2 Om Dadang, jadi gini: memang PSC itu berkembang pesat, khususnya bagaimana membagi “kue” antara investor dan negara. Jadi nggak heran kalau dalam perkembangannya, keluarlah model pembagian (split) minyaknya berdasarkan macam macam parameter: Production rate, Cumulative Production, Oil Price, Depth, API gravity, ROR, R factor, dan banyak lagi lainnya....

Tentu ada plus minusnya model tersebut, seperti saya pernah posting dulu dulu, kalau modelnya sensitif terhadap tingkat keuntungan, maka model semacam itu disebut “Progressive”, artinya semakin besar tingkat keuntungan, semakin besar pula bagian negaranya. Model ini umumnya terjadi kalau split-nya berdasarkan ROR dan “R” Factor. Kalau split-nya berdasarkan tingkat produksi, umumnya tidak progressive.

Apakah “progressive” baik buat tuan rumah?, Dalam hal tertentu iya, tapi tentu tidak untuk semua kasus. Ilustrasinya gini: Model yang “progressive” ini karena berdasarkan ROR dan R factor, maka konsekuensinya tuan rumah harus “mengalah” dapat split yang lebih kecil dibanding Investor pada saat awal (karena pada periode tersebut terjadi pengembalian kapital investasi). Dimana parameter keuntungan ROR, “R” factor atau apapun namanya, masih relatif kecil. Lihat gambar berikut:


Menurut saya, model progressive ini cocok untuk daerah atau proyek yang “susah susah”, karena untuk proyek yang susah susah, ada justifikasi bagi tuan rumah untuk sedikit bersabar memerima share yang lebih kecil. Bagi Investor, model ini merupakan insentif untuk memperoleh investasi “high risk” mereka lebih awal. Kalau yang “gampang gampang” tentu kurang pas buat tuan rumah menggunakan model seperti ini, mungkin lebih cocok model yang nggak progressive.

Supaya ada guideline, saya coba bikin gambar dibawah (yang warna Hijau, Kuning, Merah adalah probabilitas ketemu prospek hidrokarbon). Ini buat acuan saja dimana kira kira model “progressive” ini cocok, dimana pula kira kira kalau seandainya mau pakai model “Service Contract”. Demikian Om Dadang, semoga tidak tambah kabur....

Sunday, February 17, 2008

Kenapa (masih) perlu IOC?

Pas lagi buka2 bahan kursus Daniel Johnston, saya ketemu gambar dibawah yang cukup menarik.

Alasan utama si host country ngundang investor adalah bahwa Gov Take (bagian dari profit minyak yang masuk ke pundi negara), mestinya lebih besar dibanding dikerjain sendiri sama negara. Kenapa? karena unit cost nya lebih gede kalau dikerjain sendiri. lha kok bisa? ya karena jam terbang alias "learning curve" IOC, kemampuan manajerial dan penguasaan teknologi.

Lha kok kalau dikerjain sendiri bukankah biaya murah (nggak pakai bayar expat, nggak pakai bayar2 studi ke LN segala macem)?. Asumsi digambar itu mungkin seperti ini: emang secara nominal cost yang akan dikeluarkan oleh IOC lebih gede, tapi kemungkinan mereka untuk sukses menemukan lapangan yang gede (lebih besar). Atau bahasa sederhananya: outputnya lebih gede, sehingga cost per unit nya jatuhnya lebih kecil.

Tentu ini bisa diperdebatkan...

Tuesday, February 12, 2008

Buku baru yang gratis

Silvana Tordo (kelihatannya tidak ada hubungan dengan Silvana Herman..), Senior Energy Economist, World Bank, baru ngeluarin buku (2007), judulnya: Fiscal System for Hydrocarbons - Design Issues. Bukunya tipis cuma 72 halaman (sebetulnya ini paper yang dikemas jadi buku). Begitu tahu ada buku ini, saya langsung pesan ke Amazon, relatif nggak mahal karena tipis dan paperback, sama ongkos kirim sekitar 15 Euro.


Belakangan saya baru tahu kalau versi pdf-nya bisa di download gratis disini. Begitu saya mau cancel ke Amazon, ternyata udah dikirim, ya apa boleh buat. Ditengah langkanya publikasi baru mengenai aspek aspek petroleum fiscal, buku mbak Tordo patut disambut hangat, disamping tentu saja (menurut saya) isinya sendiri sangat bagus, pembahasan lengkap dan cukup advanced. Artinya buat yang sudah expert-pun, buku ini sangat bermanfaat, monggo silahkan dibaca. Kalau kesulitan download, nanti saya kirim via email deh.

Wednesday, February 06, 2008

Expertise, not money...

Menarik membaca interview International Oil Daily (Feb 6, 2008) dengan menteri perminyakan Algeria, Dr. Chekib Khelil sehubungan dengan rencana bid round beberapa blok disana.

Saya kutip: …The key is not the investment the firms bring, but the expertise: “We have the money,” Khelil reiterated. “We could do it ourselves but probably we are not going to do it as well as they could, so that’s what they bring.”….

Kalau dulu paradigma investasi migas di negara berkembang, selalu bilang nggak ada duit dan tentu saja nggak ada keahlian.. Tapi tampaknya itu cerita lama, paling nggak sekarang di beberapa negara, duit bukan motivasi utama, artinya duit mah gampang dicari, yang diharapkan dibawa itu adalah expertise, keahlian si multinational oil company..

Untuk negara kita, transfer ilmu di level technical sudah berjalan cukup baik, namun di level manajerial yang belum tuntas. Kita bisa lihat sekarang, di level technical sudah pada “mumpuni”. Tetapi untuk level mimpin proyek migas gede (mimpin perusahaan), kayanya belum banyak yang punya pengalaman, makanya nggak heran kalau masih belum pede ketika ditawarin kerjain sendiri… (nggak usah pake contohlah, tebak sendiri he he..). Mungkin sekarang perlu dipikirin untuk nyiapin “co-pilot” di proyek proyek besar yang kerjasama dengan IOC, nah si “co-pilot” ini dilatih juga untuk nanti jadi pilot beneran, jangan cuma dikasih kerjaan receh receh, akhirnya nanti sama pilotnya selalu dibilang belum siap, padahal emang nggak niat ntransfer ilmu. Sebaiknya si co-pilot ini dipilih dari tenaga yang masih muda (kalau tua nanti keburu pensiun..) dan punya tipikal rada “ndableg”, jangan yang model pasif aja, namanya ilmu nggak ada yang ngasih gratis, nyolong2 dikitlah he he..

Kalau diibaratkan sepakbola, kita punya pemain sich, skill oke semualah, tapi tentu perlu pelatih untuk meramu strategi, nah pelatih ini yang kita belum punya… makanya (untuk case case tertentu) masih perlu IOC seperti pak Menteri Algeria bilang.

Wednesday, January 30, 2008

PSC vs Non Cost Recovery

Ijoel: Mas Ben, untuk model non CR, bisa nggak ditambahkan dengan ilustrasi dari perspektif IRR kontraktor?. Trims sebelumnya Jan.29.08 05:02 AM

--------
Sebenarnya saya sudah banyak sekali posting mengenai untung rugi metoda pembagian berdasarkan Gross Revenue alias model kontrak yang nggak ada cost recovery.

Saya berangkat dari latar belakang dulu: model ini jadi menarik karena ada kata "non cost recovery", timing-nya tepat karena saat ini "cost recovery" itu sedang menjadi musuh nomor satu bangsa, semua orang alergi kalau mendengar istilah cost recovery he he. Jadi kalau ada model yang "non cost recovery", maka model ini dianggap solusi paling ideal.

Ada juga yang berasumsi bahwa dengan model non-cost recovery, investor akan lebih effisien karena komponen cost sudah termasuk porsi bagian investor (investor share). Dengan demikian, investor akan terdorong melakukan efisiensi biaya dalam rangka memperoleh margin profit yang lebih besar.

Sekarang mari kita berandai andai, Anda adalah investor yang berminat ikut tender block (model non cost recovery ini). Singkat cerita, dari data2 sub-surface (bila tersedia), staff Anda bisa memperkirakan berapa cadangan dan expected profil produksinya, data estimasi biaya (finding, dev. dan production cost) juga bisalah diperkirakan. Dengan asumsi harga minyak, Anda kemudian bisa menghitung IRR dari block tersebut, baik dengan menggunakan PSC standard maupun dengan macam macam split untuk model yang "non cost recovery". Karena ada ketidakpastian dari estimasi yang dibuat, maka Anda perlu melakukan sensitivitas dari ketiga key profit drivers, yaitu: harga minyak, cadangan (yang direfleksikan oleh forecast produksi) dan biaya (baik Capex maupun Opex). Secara sederhana, hal ini bisa dilakukan dengan mengubah salah satu key profit drivers tersebut, sementara yang lain dianggap konstan, atau kalau Anda mau advanced dikit, supaya bisa melihat efeknya secara simultan, bisa juga dilakukan dengan metoda simulasi.

Supaya tidak terlalu komplek gambarnya, saya lampirkan 2 gambar berikut (Gambar 1 & Gambar 2). Pada dasarnya ini sensitivitas biasa, perlu diperhatikan disini yang penting dilihat adalah polanya, angka (dalam hal ini) tidak begitu penting karena bisa beda beda tergantung inputnya.


Membacanya kira kira begini: kalau key drivers profit-nya "favourable" (bisa karena prices naik, reserves naik atau costs turun, atau kombinasinya), maka IRR investor akan naik. Sebaliknya juga begitu, kalau "non favourable" (prices turun, reserves memble, cost naik), IRR akan turun.

Katakanlah, Anda sebagai investor akan nge-bid sebesar 30% - 70% (yang disebut duluan adalah bagian investor), dari Gambar 1 kita dapat bagi menjadi 3 Area. Area I dan Area III adalah area yang lebih "menguntungkan" bagi Government dibanding investor relatif terhadap PSC standard (85 : 15). Sebaliknya area II adalah area dimana investor yang "lebih diuntungkan". Kalau kita lihat split 30 – 70 selintas cukup fair, karena kemungkinan berada di area I + III sama dengan area II. Bisa juga dibaca begini: makin bagus "key profit drivers" (area II) makin untunglah investor (lagi2 maksudnya relatif terhadap PSC standard). Sebaliknya makin kurang bagus "key profit drivers" (area I + III), makin kurang beruntunglah investor, karena ternyata hasil ini lebih jelek dibanding kalau mereka pakai PSC standard.

Namun demikian perlu kita lihat bahwa area III adalah area dimana IRR investor akan kurang dari 10%, sehingga pada realitanya nanti, area III ini tidak akan terjadi, apabila ini case-nya, si investor akan mundur. Apa ada investor mau terus kalau proyeknya bakalan rugi. Hal ini tidak akan terjadi apabila menggunakan PSC standard, dengan PSC standard IRR investor masih diatas 10%, yang artinya proyeknya tetap akan berjalan.

Sekarang kita lihat Gambar 2, bagaimana kalau investor nge-bid sebesar 35% - 65%, yang terjadi adalah area II ("investor makin untung“), semakin membesar, pay-off bagi government (area I) semakin mengkerut. Begitu seterusnya, apabila investor nge-bid lebih besar lagi (mis: 40% - 60%), maka praktis government gigit jari, karena in any case, IRR investor akan lebih baik dari model PSC standard.

Dapat kita lihat sebenarnya model "non cost recovery" ini lebih kearah terjadinya "win – lose", artinya: kalau terjadi ekstrim negatif, investor kalah telak, sementara pada kondisi ekstrim positif, investor menang telak. Pada PSC standard, hal ini tidak terjadi (jadi cenderung lebih win-win). Pada kondisi ekstrim negatif, investor masih bisa eksekusi proyeknya, pada kondisi ekstrim positif, gorvernment dapet bagian yang lebih besar.

Kembali ke pertanyaan klasik. Betulkah Anda (sebagai investor) akan menjadi lebih efisien dalam hal manajemen biaya dengan model non cost recovery ini? Wallahualam!, kalaupun benar, saya tidak begitu yakin akan terjadi cost effisiensi yang signifikan. "Keberuntungan" investor lebih banyak dipengaruhi oleh ketemu reserves yang gede dan tertolong lonjakan harga minyak. Jadi nanti kalau investor untung banyak (area II), itu bukan karena cost efficiency. Sebaliknya, apabila terjadi kondisi di area III, apa dengan melakukan cost efficiency bisa menolong untuk mendongkrak IRR investor? Well, I hope so, but I doubt it....

Sejatinya, besarnya cost itu tidak bergantung jenis kontrak, jadi kalau Anda mau develop field, tentu Anda akan sampai pada estimasi cost yang sama terserah mau kontraknya kaya apa. Apa kalau modelnya royalty tax terus Anda merasa harus effisien? Sementara model PSC Anda akan jor jor-an?. Apa iya investor untung kalau jor jor-an di cost?. Coba lihat posting saya tentang cost recovery sebelumnya.

Bahwa ada upaya Government untuk mengupas detail komponen cost recovery saya kira itu perlu di-apresiasi, intinya "cost recovery" jangan dijadikan tong sampah, apapun dimasukkan kesana. Walapun saya kira pada akhirnya komponen biaya "receh receh" yang sering dbahas itu sebenarnya secara persentase dari total cost mungkin tidak terlalu signifikan (ini feeling saya aja, mohon share kalau ada yang punya datanya, walaupun kecil tentu bukan alasan pembenaran, tetap harus diproses kalau ada "kebocoran" sekecil apapun, namun yang penting itu, ibarat kata pepatah: kalau mau nangkep tikus, janganlah dibakar gudangnya..). Komponen biaya besar itu khan yang berhubungan dengan proyek2 yang terkait dengan core activities dari bisnis migas. Nah, disini pengawasan yang perlu ditingkatkan. Caranya? Tingkatkan: knowledges, experiences & integrities dari pihak yang mengawasi. Cukup? Belum, KKKS di RI ini banyak jumlahnya (apalagi proyeknya), maka diperlukan integritas dari teman2 yang beberja di KKKS yang nota bene mewakili pemerintah juga (karena toh "indirectly" makan gaji pemeritah juga?). Mohon juga kontribusinya, jangan jadi penonton saja, kalau ada "tikus" berkeliaran dikantor jangan diem saja, di-infokan ke pihak yang berwenang. Kalau kompetensi yang ngawasi sudah bagus, terus yang kerja di KKKS integritasnya meningkat, selesailah sudah urusan cost recovery ini. PSC ini banyak dipakai dimana mana, tapi nggak ada yang sebegitu hebohnya dengan cost recovery, apabila naik, bisa jadi level of activities meningkat dan tentu saja mereka paham dengan trend bahwa biaya upstream lagi naik. Kalau di kita ini, semua masalah jadi kompleks, sana sini teriak, akhirnya: tikusnya nggak dapet, gudangnya dibakar habis he he..

Sebetulnya, kalau kita lihat praktek PSC di mancanegara saat ini, Untuk E&P contracts, model PSC saat ini masih yang paling populer, perkembangannya juga sangat cepat dengan berbagai macam teknik dan formulasi yang disesuaikan dengan kebutuhan. Kita yang jadi pioneer malah sudah agak tertinggal. Bagaimanapun, di level kita ini kan cuma bisa memberikan pandangan dan wacana yang berkembang, yang mana yang mau dipilih mah terserah: apa mau modifikasi model PSC atau bikin trend baru dengan mengeluarkan model kontrak "non cost recovery"?

Sunday, January 27, 2008

Kontrak non cost recovery (lagi!)

Dari tagboard, zaki : Mas Benny, selamat online kembali Kemaren di suatu acara acara di Four Seasons, Pak Luluk mengatakan pemerintah sdg mengkaji jenis kontrak yg non cost recovery, dan nanti akan ditenderkan juga split-nya. Terus terang saya merasa agak bingung dg perkataan beliau, karena menurut saya, split itu thd revenue minus cost. Apakah memang ada contoh di negara lain yg seperti ini? Rasanya di Libya pun besaran split yg dibagi adalah besaran setelah cost recovery, pls confirm. Thx a lot. Jan.24.08 08:34 AM


---------------
Detail model yang dimaksud saya belum tahu, banyak memang praktisi migas di tanah air sibuk mencari cari model tanpa cost recovery. Model yang paling “pure” nggak ada cost recovery itu adalah model yang pembagiannya split nya berdasarkan gross revenue. (lihat posting saya sebelumnya disini)

Nah, mungkin yang mau ditenderkan itu, split gross revenue-nya. Jadi nantinya bagian gov sudah termasuk royalty, tax dan lain lain, sedangkan bagian KKKS sudah termasuk cost. Contoh di negara lain? rasanya hampir nggak ada, saya pernah kontak Daniel Johnston via email, dia bilang dia sedang evaluasi buat Turkmekistan karena pertimbangan khusus. Mungkin ada yang bisa update kalau pernah dengar aplikasi model ini ditempat lain.

Memang pada akhirnya yang paling sulit untuk model ini adalah menentukan berapa split yang pas (maksudnya yang bisa diterima investor tapi nggak lebih jelek buat Gov). Jadi kalau pada akhirnya ditenderkan saja mungkin ada benernya juga, daripada bingung menentukan berapa yang pas, ya sudah suruh investor yang minat compete aja beraninya berapa.

Kalau iseng, bisa juga dikira kira berapa kisaran split yang bakalan diajukan investor, coba lihat gambar diposting sebelumnya disini.

Model ini cuma berdasarkan perhitungan Gov. Take, untuk yang lebih komplit bisa dengan detail cash model (DCF anaysis), tapi lebih njelimet, (lihat posting sebelumnya mengenai kelemahan dan kelebihan metoda komparasi disini). Pada dasarnya perhitungan simple Gov Take ini kaya “quick count” aja, simpel tapi hasil akhirnya umumnya nggak beda banyak dengan metoda yang lebih kompleks lainnya.

Investor akan nge-bid dengan asumsi kira kira berapa persentase cost thd expected gross revenue. Kalau misalkan berdasarkan perkiraan besarnya kira kira 20%, maka untuk memperoleh Contraktor take yang sama (Cont take = 1 – Gov take) dengan PSC standard, split Gross revenue yang diperlukan sekitar 32% : 68% (Cont : Gov), kalau persentase cost thd gross revenue nantinya lebih besar, katakanlah 30%, maka investor akan “rugi”, kalau sebaliknya lebih rendah (mis: 10%), investor akan “untung”, kalau cost nya = 20% maka “indifference”. Terminologi: untung, rugi ini maksudnya relatif thd PSC standard.

Kalau katakanlah asumsi cost thd Gross revenue sekitar 30%, maka perlu split sekitar 40% : 60% untuk memperoleh take yang sama dengan PSC standard. Persepsi Investor tentu beda dengan Gov, investor akan lebih cari save dengan asumsi cost yang lebih besar (karena berbagai pertimbangan spt reserves risk, inflasi, etc), sebaliknya persepsi Gov, persentase cost akan lebih kecil karena trend harga minyak yang terus meningkat. Kemungkinan kisaran Bid investor sekitar 30% – 45%. Makin berani investor (ngebid dibawah 30%) makin besar peluangnya.

Seperti pernah saya posting, disadvantage model ini adalah seperti “pisau bermata dua”, gambarannya gini: katakanlah investor yang jadi pemenang nge bid dengan 33% - 67%. Dari persepsi gov, bisa jadi ini lebih jelek ketika profitnya melonjak (karena reserve yang ternyata sangat gede dan harga migas ternyata terus meningkat). Sebaliknya bisa jadi lebih bagus, ketika ternyata prospeknya memble, dan harga migas nggak naik. Jadi model ini melindungi Gov thd “potential loss”, tapi tidak lebih baik ketika terjadi “excessive profit”.

Namun demikian, coba sejenak kita bayangkan apa yang akan terjadi, ketika terjadi kondisi “potential loss”, apa investor akan terus jalan dengan proyeknya? Sudah tahu bakalan rugi apa iya terus ??, bisa jadi investor akan “cut loss” alias mundur. Paling mungkin, yang akan terjadi adalah re-negosiasi, investor akan minta perubahan terms. Sebaliknya kalau terjadi excessive profit, apa rela investor bagi bagi rezeki tambahan tsb?. Akhirnya, “kelebihan” dari model ini (karena tidak ada mekanisme cost recovery) kelihatannya pada prakteknya tidak akan terjadi.

Secara “time value of money”, model seperti ini, tidak terlalu menarik buat investor, karena adanya karakteristik “cost recovery ceilling” (dalam contoh ini, cost hanya bisa direcover sebesar max 33% setiap tahunnya), padahal investasi awal nilainya sangat besar. Tentu akan berpengaruh ke perhitungan IRR, NPV, pay out etc.

Singkat cerita, kalau hanya pembagian split berdasarkan gross revenue saja, saya kira akan terlalu sederhana dan memungkinkan terjadi kondisi “pisau bermata dua“ tsb. Perlu dipikirkan untuk membuat terms & conditions lain untuk mengantisipasi kedua kondisi ekstrim diatas.

Tuesday, January 22, 2008

I am back

Always too short for holidays, padahal udah cuti sebulan lebih dikit, tetap aja rasanya kurang, lumayanlah ketemu teman2 lama, ketemu makanan enak, jadi pingin cuti lagi nih...

Kembali ke blog, banyak juga pertanyaan euy, tak jawab satu satu sekenanya dulu ya.

toni: mas benny yang baik, menurut mas beny apakah kalo ada KPS yang join ikutan KSO sama Pertamina itu, si KPS berhak meng klaim equity reserves yang dia dapat dari porsi nya pertamina itu sebagai book reserves nya ya? Jan.16.08 11:14 AM

Toni yang baik juga, KSO itu agak unik, selintas kayak “PSC dalam PSC”, btw, jawaban saya ini belum tentu benar karena saya nggak tahu detailnya KSO. Berdasarkan pengamatan jarak jauh saja, kuncinya sebenarnya adalah pertanyaan ada nggak “transfer of interest” dari PTM ke Partner? kalau nggak ada, ya nggak bisa booking reserves, sependek yang saya tahu dalam KSO itu nggak ada transfer of interest, kaya service contract biasa. Mungkin teman PTM yang involved di KSO bisa menambah pencerahannya

Malik: Mas Beni, saya ada pertanyaan, apa benar untuk kontrak PSC kita yang baru diberlakukan DMO untuk gas? Kalo YA, gimana ketentuannya. Kebetulan saya sedang running economics untuk exploration/NV propects untuk Eastern-Indonesia. Makasih sebelumnya. Salam, Malik (TM'91). Jan.16.08 03:09 AM

Mas Malik, Ketentuan detailnya saya belum tahu, DMO untuk Gas, mungkin lebih tepat nyebutnya DMA kali (Domestic Market Allocation) itu khan isu serius bagi pemerintah dan saya pikir perspektif KKKS juga harus diubah untuk melihat kondisi tersebut sebagai “kebutuhan yang mendesak” bagi pemerintah. Berapa besarnya? Saya nggak tahu persis, bisa jadi itu bagian dari negosiasi berdasarkan keekonomian proyek tersebut. Bisa saja direkomendasikan oleh pemerintah sama dengan DMO oil sebesar 25% (tentu bisa juga lebih). Pada akhirnya kuncinya khan di pricing gas, kalau harga gas domestik juga bagus, mestinya itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan buat KKKS, bukankah dalam kasus2 lain, buyers domestik ternyata berani beli dengan harga yang lebih bagus daripada buyers di LN?. Sekali lagi ini juga berdasarkan pengamatan jarak jauh lho..

adhi: mau tanya mas benny, ada gak artikel tentang PSC gas natuna yang kontroversial itu ? kalo gak salah porsi kontraktor dan negara 100:0. Kemaren di todays dialog metro TV Wapres JK mengatakan psc dirubah total menanggapi keberatan Amin Rais. Syukur alhamdulillah kalo mas benny bisa nerangin kronologis sampe yang terbaru. Jan.08.08 07:32 AM

Mas Adhi, Artikel Natuna khan udah banyak dibahas di mass media, coba juga liat posting saya sebelumnya.

Eri: Mas Ben, happy new year 2008. Barusan saya baca di [LINK] kalau pemerintah RI sedang mengkaji sistem kontrak yg berbasis TIDAK menggunakan cost recovery. Salah satu usulan yg dipertimbangkan adalah untuk tender, point yang akan dinilai adalah berapa % split yang ditawarkan kepada pemerintah RI. Gimana ini mas? Jan.07.08 12:21 PM

Mas Eri, Happy new year juga, kemaren pas malem tahun baru saya di Jakarta, nggak kemana2, kecapean, tiduran aja dirumah.

Untuk kasus model kontrak yang tidak menggunakan “cost recovery” sudah banyak saya bahas, buat saya itu bukan solusi optimum buat government, saya kira itu euphoria saja karena terlalu ketakutan dengan cost recovery. Saya khawatir, at the end, government yang akan jadi looser..

Mengenai bid-able split, itu udah banyak di praktekan di LN (Libya, Angola dan banyak lagi), profit oil split dikosongin, IOC tinggal isi sendiri beraninya nulis angka berapa, kadang kadang nggak cuma split yang di tenderkan, yang lain bisa juga kaya: royalty, cost recovery limit, etc. Untuk kasus EPSA Libya, mereka malah terkaget kaget sendiri waktu buka hasil bid-nya, kok IOC masukin split nya kecil sekali buat si IOC nya. Waktu ada yang kritik, kok terms Libya ketat sekali, Boss minyaknya Libya sana enteng aja bilang, lha mereka sendiri yang nekat minta splitnya kecil kecil he he..

Erwin: salm kenal sy adlh mahsiswa jursan Business Management yg sdng menysun skripsi.sampai saat ni sy msh dibingungkan dgn topik pa yg akan tuls pd skripsi sy ini.Permasalahannya, sy sangat interest dng topik sosio ekonomi yn berkaitan dng [LINK] ingin skripsi sy trsebut selain sbg salah satu syarat klulusan meraih gelar Srjana, tp jg sbg informasi & solusi atas prmasalahan prekonomian indo.Shg skripsi sy dpt mnjd kritik bg Khalayak umum yg memiliki peran di dlmnya.apakah sdr beny bs memberikan masukan thp prmasalahan sy? Terima Kasih..Best Regard Dec.27.07 06:05 AM

dan: Halo Pak Benny, wah.. senang sekali membaca blog-nya bapak, sy mendapatkan pengetahuan bnyk sekali. Kebetulan saya sedang mengerjakan studi literatur mengenai aset manajemen negara di bidang oil n gas. Saya ingin share lebih lanjut, bisakah Pak Benny hubungi saya di email saya? thx.. Dec.26.07 10:14 AM

Mas Erwin, saya nggak bisa buka LINK nya, email JAPRI aja ke saya (
blubiantara@gmail.com). Buat Mas Dan juga deh, kira2 apa yang bisa di share?


Juwarto: Mas Benny, saya mo nanya soal Pertamina. Apa semua (mayoritas) kontrak2 pertamina itu "no-ringfencing". Soalnya pertamina menggunakan metode konsolidasi untuk menghitung biaya2 yang ditagihkan ke negara. Akibatnya pembagian hasil migas ke daerah(pemda) terkesan tidak adil. Daerah yang seharusnya dapat bagi hasil tinggi jadi berkurang karena harus "mensubsidi" biaya daerah lain. Terima kasih. Juwarto Dec.14.07 04:18 AM

Mas Juwarto, pertanyaannya saya kira sudah dijawab dengan sangat baik oleh mas adhi, tengkiu mas adhi.


Martinus: Hello Pak Benny, apa kabar? Semoga baik dan sehat2 selalu ya. Apa Pak Benny tertarik untuk menulis blog tentang windfall profit? Apalagi ada wacana untuk DPR menerbitkan RUU mengenai windfall profit tsb. Thanks. Dec.14.07 01:16 AM

Mas Martinus, tentang windfall profit, boleh juga tuh he he.. tapi serem buat KKKS kali ya. Kalau kolega saya disini bilangnya gampang aja, kalau diterjemahkan kira kira begini: “mister IOC, ente khan nggak pernah nyangka kalau harga minyak jadi setinggi kaya gini waktu ngitung keekonomian proyek ente 5 – 10 tahun lalu, oke lah ogut percaya, ente pasti protes, bilang apa apa naek mas, ngebor mahal, cari karyawan profesional susah mintanya gaji gede semua, pokoke semuanya naek deh. Gini aja deh mister, ogut ngertilah itu semua, gimana kalau kita transparan aja hitung2 annya, ogut juga nggak enak kalau ente jadi tekor, tapi ya jangan terlalu pelit juga, ngakunya miskin terus, ngasih tapi sing ikhlas dong, makanya kita itung2-an transparan ajalah…”. Inilah diskusi windfall profit ha ha…

Monday, January 07, 2008

Harga Minyak - how high is too high?

Namanya Arjun Murti, dia bekerja di Goldman Sachs, anak muda ini salah satu pembicara yang paling ditunggu pada waktu menghadiri Oxford Energy Seminar, September 2006. Arjun mendadak populer dikalangan analis harga minyak dengan teorinya super spike yang meramalkan harga minyak akan segera mencapai 105 $ per barrel. Pada saat itu, di kalangan analis - Arjun dianggap nyeleneh, tapi sebenarnya banyak juga yang penasaran dengan teorinya tersebut. Pada sesi lain dalam seminar yang sama, Ivo Bozon dari perusahaan konsultan yang juga terkenal (MacKinsey), membuat ramalan sebaliknya, harga minyak akan segera turun ke level 35 - 40 $ per barrel. Saat itu harga minyak WTI sekitar 64 $ per barrel, turun sejak mencapai puncaknya bulan Juli 2006 sebesar 76 $ per barrel. Dua bulan kemudian harga minyak terus turun ke level 55 $ per barrel dan orang mulai melupakan teorinya Arjun.

Mingguan Petroleum Intelligence Weekly (PIW), secara rutin mengadakan semacam kontes forecast harga minyak yang terdiri dari para analis beken dari institusi kondang kelas dunia. PIW edisi April 2007, memuat range forecast dari analis tersebut, hasilnya: untuk rata rata tahun 2007 range-nya berkisar antara 54 - 66 $ per barrel. Apa yang terjadi kemudian? Harga minyak terus meningkat sejak April 2007, pola ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya dimana harga minyak akan cenderung turun setelah liburan musim panas berakhir, ini ternyata tidak terjadi untuk tahun 2007. Melihat perkembangan harga minyak, PIW edisi September menurunkan kembali update forecast harga minyak dari para analyst tersebut, untuk kuartal 4, 2007, yang berkisar antara 67 – 77 $ per barrel, tidak satupun analis beken memperkirakan harga minyak akan tembus ke level 80 $ per barrel. Ada joke diantara para analis, “pekerjaan apa yang paling sia sia?”, jawabnya: “mem-forecast harga minyak”.

Semua analisa harga minyak tentunya berangkat dari faktor faktor fundamental, seperti: pertumbuhan ekonomi, supply vs demand, level persediaan (stocks) di negara konsumen, spare capacity OPEC, weather (musim), tentunya juga ditambah kemungkinan terjadinya gangguan pasokan baik karena masalah geopolitik maupun badai dan bencana alam lainnya.

Apa yang terjadi tahun 2006, ketika supply vs. demand dianggap cukup, namun terjadi masalah pasokan untuk produk produk hasil kilang akibat adanya bottleneck. Selain masalah kapasitas, juga ada masalah kompleksitas kilang karena terjadi ketidakseimbangan permintaan produk minyak. Secara global, permintaan untuk light products (gasoline, naphtha) meningkat sebaliknya permintaan heavy products relatif turun. Konfigurasi kilang yang jenis simpel tidak bisa meng-upgrade crude residue menjadi light products. Maka terjadilah “rebutan” minyak mentah jenis ringan, sementara tambahan pasokan minyak mentah yang tersedia sebagian besar jenisnya heavy crude, yang terjadi akhirnya: surplus heavy crude sementara defisit light crude.

Perkiraan pertumbuhan permintaan dan pasokan minyak global biasanya dilakukan oleh banyak institusi, seperti: OPEC, DOE, IEA, CERA, PFC, Barclay Capital, Argus dan lain lain. Data tersebut ada yang bisa diakses langsung, ada juga yang harus membayar dulu sebagai anggota. Perkiraan pertumbuhan permintaan untuk tahun 2008 dari rata rata institusi tersebut sekitar 1.3 juta barrel per hari. China, India dan Timur Tengah mengambil porsi sekitar 850 ribu barrel per hari (65%) dari tambahan permintaan global tersebut.

Bagaimana dari sisi pasokan? tambahan sekitar 800 - 900 ribu barrel per hari dipasok dari negara Non-OPEC (Utamanya: Brazil, Canada, Russia dan Azerbaijan). Sementara kekurangannya akan diisi oleh OPEC, dengan spare capacity OPEC sekitar 2 - 3 juta barrel per hari, fundamental tentunya cukup aman.

Salah satu faktor non-fundamental yang tidak boleh dilupakan adalah persepsi, persepsi yang timbul adalah bahwa posisi fundamental sangat ketat, yang pada gilirannya menimbulkan kecemasan konsumen terhadap keyakinan akan ketersediaan pasokan. Faktor faktor ini (kecemasan macetnya pasokan karena meningkatnya ketegangan geopolitik, ketidakyakinan kinerja pasokan Non-OPEC, dan kenyataan menurunnya level persediaan minyak mentah US) tentu mempunyai andil terhadap meningkatnya harga minyak. Faktor lain adalah melemahnya nilai tukar dollar dan turunnya tingkat suku bunga di US yang membuat investor melakukan hedging terhadap posisi dollar yang melemah, kondisi ini mendorong meningkatnya harga komoditas termasuk minyak.

Peran dan pengaruh spekulan di oil futures market.

Pada umumnya yang dimaksud spekulan dalam crude oil papers itu adalah kelompok yang tidak ada hubungannya dengan transaksi minyak yang sesungguhnya (physical crude). Misalnya: hedge, pension fund, dan lain lain. Transaksinya dicatat sebagai non-commercial oleh CFTC (commodity futures trading commission). Oleh karena itu transaksi non-commercial ini dijadikan pendekatan untuk melihat aktivitas spekulan. Analis berusaha mencari hubungan antara aktivitas spekulan dengan kecenderungan harga minyak, misalkan dengan membuat plot: harga minyak (WTI) vs. transaksi non-commercial, harga minyak vs. volume open interest (total jumlah futures contracts long atau short yang belum di likuidasi oleh offsetting transaction atau delivery).

Mengapa spekulasi kena getahnya dan dituding ikut mendorong melonjaknya harga minyak? Beberapa tahun belakangan transaksi di futures markets ini meningkat sekitar empat kali lipat dibanding 10 tahun yang lalu, begitu pula transaksi untuk kontrak non-commercial. Beberapa studi menyebutkan bahwa hanya melihat fundamental supply vs. demand di physical market tidak memberikan gambaran yang utuh tanpa membahas pengaruh paper market. Oleh karena itu, sebagian analis percaya bahwa meningkatnya transaksi spekulan ini berpengaruh terhadap peningkatan harga, walaupun susah dihitung secara kuantitatif berapa besar pengaruh kenaikan harga akibat aksi spekulan ini.

Namun banyak juga studi yang menyimpulkan sebaliknya, bahwa tindakan spekulasi tidak banyak berpengaruh terhadap harga minyak, tetapi yang terjadi adalah harga minyak yang mempengaruhi aksi spekulasi.

Analis yang mem-plot harga minyak dengan transaksi non-commercial maupun volume open interest, bisa menunjukkan hubungan bahwa pada periode tertentu ada korelasi positif, namun pada periode lain tidak ada korelasinya.

Menurut publikasi konsultan terkenal Cambridge Energy Research Associates (CERA) bulan Januari 2008, volume open interest di NYMEX mencapai 1.5 juta kontrak (standar NYMEX dan ICE Future, 1 kontrak = 1000 barrel). Apabila digabungkan dengan options, maka total volume open interest mencapai 2.4 juta kontrak. Untuk transaksi non-commercial, net long position sebesar 83 ribu kontrak, atau sebesar 83 juta barrel yang hampir setara dengan total permintaan dunia sebesar 86 juta barrel per hari. Posisi long futures menjadi menguntungkan apabila harga naik, net long position umumnya merefleksikan ekpekstasi harga akan naik. Spekulan memang tidak menentukan kecenderungan harga, tetapi tindakan spekulan mempunyai kemampuan untuk “mengarahkan” kecenderungan harga tersebut.

Mengingat begitu banyak faktor yang berpengaruh, fundamental dan non-fundamental, memperkirakan harga minyak memang luar biasa sulit kalau tidak mau menyebutnya pekerjaan sia sia, kecenderungan harga yang masih naik, tentu akan sampai batasnya dimana dia harus turun (what goes up, must go down). Ketika harga minyak sempat menembus level “tiga digit”, mungkin analis perlu kembali ke teorinya Arjun, dengan satu pertanyaan sesuai judul presentasinya dahulu: “how high is too high?”.

Thursday, December 06, 2007

PSA Russia (update)

Baru terima email dari Oxford Institute for Energy Studies (OIES) tadi siang, biasanya mereka kirim email kalau ada working paper (WP) baru. Enaknya WP dari OIES ini (sebagian besar) bisa di download gratis, nggak perlu member2 segala. WP ini cukup menarik judulnya, yaitu: Agreement from Another Era, Production Sharing Agreements in Putin's Russia: 2000 - 2007, bisa di download disini. Anggap aja sebagai update dari posting saya tentang PSA di Russia awal tahun ini disini.

Wednesday, December 05, 2007

Manfaat nge-blog..

Sudah hampir satu setengah tahun nge blog? Teman saya bilang, “rajin amat kamu nulis di blog”, sebenarnya nggak juga ya, karena sebagian besar yang saya posting itu berhubungan dengan kerjaan saya dulu maupun sekarang, juga dari beberapa bahan kursus yang pernah saya berikan di tanah air.

Kalau update untuk industri migas dan energi di mancanegara, saya terbantu dengan banyaknya langganan publikasi yang diterima setiap pagi, hampir satu jam pertama di kantor dipakai buat baca publikasi online tersebut. Biasanya kalau ada yang menarik dan tidak terlalu spesifik saya olah sedikit untuk dijadikan bahan posting. Saya tidak mau langsung copy paste, karena memang aturannya tidak boleh. Gimanapun itu ”periuk nasi” si penerbit. Sebenarnya banyak publikasi bagus tapi (sayang) sifatnya confidential, ya udah, saya keep aja. Saya juga terbantu dengan mudahnya beli buku baru yang terkait dengan energi, perminyakan, fiscal dan lain lain, kadang kadang sedih juga mendengar teman2 di tanah air yang kesulitan cari buku. Disamping itu disini cukup sering ngundang pakar mancanegara untuk presentasi, jadi ada kesempatan untuk interaksi langsung, enaknya kalau ada hal hal yang off the record, biasanya mereka share.

Buat saya sendiri, nulis di blog banyak manfaatnya juga, kalau perlu info cepat mengenai suatu hal dan kebenaran pernah saya posting, biasanya saya merasa lebih cepat kalau cari di blog, ketimbang cari di files di komputer. Hitung hitung kaya bikin catatan ajalah..

Mungkin ada satu hal yang menjadikan nge-blog lebih mudah, disini akses internet relatif murah, dengan paket 3 in 1, yang terdiri dari: akses internet bebas 24 jam per hari, ditambah TV cable dan telpon lokal, kena sekitar 700 ribu per bulan. Saya kira lebih murah dibanding di Jakarta (atau sekarang sudah ada yang lebih murah?).

Salah satu yang menarik dari nge blog adalah diskusi dan banyak teman, beberapa yang email “japri” ke saya, baik yang sekedar say hello, maupun nanya yang susah susah. Beberapa saya posting di blog yang kira2 menarik buat yang lain. Saya senang diskusi dengan adik2 yang lagi kuliah yang perlu paper2, kalau kebetulan ada pasti saya kirimkan (gimananapun saya pernah merasakan susahnya cari paper gratis dulu...). Saya juga banyak dapat kiriman presentasi, makalah dan lain lain dari teman teman, senior dan lain lain dari tanah air. Ada juga yang ngirimin buku (thanks a lot!). Mengenai nulis buku? Setelah saya pikir2, (kayanya) nggak semudah itu, nulis buku kan pake bahasa yang benar, bahasa saya agak belepotan, sementara nulis blog saya bisa pake bahasa prokem… paling nggak, belum kepikiranlah untuk saat ini.

Saya ngebayangin mau cuti satu bulan, kayanya nanti kangen juga lama nggak nge blog!

Thursday, November 29, 2007

Buku Baru & CUTI...

Escaping the Resource Curse, Ini buku baru terbitan tahun 2007, saya pesan lewat Amazon UK, harganya sama ongkos kirim dan VAT sekitar 36 euro. Saya suka judulnya dan salah satu editornya (Prof. Stiglitz) yang sempat ramai ketika mendukung langkah nasionalisasi versi Bolivia beberapa waktu yang lalu.

Menarik ternyata ide awal penulisan buku ini salah satunya dari George Soros (dengan kapasitasnya sebagai Chairman and Founder of the Open Society Institute), tidak heran kalau kata pengantarnya dari doi. Saya kutip paragraf awal dari kata pengantarnya: “resource curse” is the term used to describe the failure of resource rich countries to benefit from their natural wealth. Perversely, many countries rich in natural resources are poorer and more miserable than countries that are less well endowed…

Buku ini terdiri dari kumpulan tulisan dari beberapa pakar, David Johnston (kembarannya Daniel) nyumbang satu tulisan, judulnya “How to Evaluate the Fiscal Terms of Oil Contract”, isinya hampir sama dengan bukunya Daniel, hanya ada beberapa update khususnya mengenai: Saving Index, Effective Royalty Rate (ERR) dan Access to Gross Revenue (lihat posting2 saya sebelumnya kalau ingin tahu detail “binatang” apa ini). Tulisan2 lain kalau dilihat judulnya juga kelihatannya menarik, saya baru sempat lihat tulisannya Joseph Stiglitz di bab 2, judulnya “What is the Role of the State”, saya bacanya agak pelan2, karena surprise, tulisan profesor ini agak sangar juga, dimana dia membahas kasus2 “cheating” yang dilakukan IOC besar, dia juga membahas bahwa “suksesnya” renegosiasi kontrak2 lama di Amerika Latin, menunjukkan keyakinan dia bahwa selama ini mereka (host countries) ditipu (sama IOC)…

Bab lain belum sempat disentuh, kayanya kerjaan numpuk karena 2 minggu lagi saya mau cuti pulang kampung, beberapa kerjaan harus diselesaikan sebelum terbang ke Jakarta. Paling nggak buku ini bisa dibaca di pesawat atau dijadiin tambahan bantal kalau nggak sempat. Pengalaman menunjukkan kalau kita bawa buku, 99% malah nggak akan sempat dibaca, apalagi pas cuti, banyak urusan lain yang lebih menarik he he.. So, Off dulu barang sebulan, lupakan urusan kontrak migas, fiscal terms, harga minyak, dan lain lain… mending mikirin dimana cari makanan enak di kampung......he he.