Thursday, May 10, 2007

Membandingkan Fiscal Terms

Ada yang tanya lewat email:”mas kalau mau bandingin fiscal terms beberapa negara, parameter apa sih yang dibandingin, karena ada yang menggunakan standard kriteria investasi, seperti: IRR, NPV, Profit to Investment, ada istilah Government & Contractor Take, ada lagi seperti yang mas benny posting, AGR dan ERR, jadi bingung, mohon pencerahan..?”.

Ini email sebenarnya udah lama, bulan lalu kali, belum sempat dibales, maklumlah kerjaan rutin ternyata lumayan menyita waktu. Pulang kantor, nyampe rumah juga udah males mikir, baru duduk depan komputer, anak gua udah mulai complaint: “papa kok maen komputer terus..!”. Weekend?, keburu banyak list yang harus dikerjain dan dikunjungin.... so, mohon maaf baru sempat respon sekarang…

Pertanyaannya bagus, kalau jawaban singkatnya, ya semua parameter tersebut penting!, kalau bisa di analisa semua, pake semua aja he he. Saya sering mikir, apakah benar investor itu menggunakan semua itu dalam proses pembuatan keputusan mereka atau jangan2 lebih banyak pake “feeling” aja?.

Kembali ke parameter diatas, kalau metoda standard kaya IRR, NPV, PI dan temen temannya, kelebihannya adalah konsisten, dalam artian jelas duit keluar masuknya kapan (timing of cashflow), jadi sahih alias dapat dipertanggung jawabkan, namun memerlukan banyak input (asumsi), production profile, cash outflow, etc. Sebagai ilustrasi gini: Kalau Anda bandingkan fiscal terms dua negara (supaya nggak rumit, anggap saja secara prospek geologi se-level-lah), yang satu: IRR country X = 21%, satunya lagi IRR country Y = 20% (biasanya NPV dan PI konsisten, sama sama lebih tinggi country X). Otomatis pilih country X?. Kalau Anda analyst atau economist, saya kira Anda akan jawab “YES”, tapi kalau Anda yang punya duit dan udah malang melintang dibisnis ini, saya nggak tahu apa langsung setuju aja. In my opinion, I don’t think so.

Ada kelemahan metoda tadi, pertama, kurang dinamis, artinya gambaran keekonomian diatas berdasarkan skenario tertentu, begitu skenario tersebut berubah (cost berubah, atau cost sama, tapi timingnya beda, oil price beda, etc), maka bisa jadi berbalik, IRR country Y bisa lebih bagus. Tapi khan bisa di simulasi dengan banyak skenario?, iya sich, tapi kalau di level decision maker gitu, biasanya mumet mereka ngeliat gambar simulasi, ujungnya, pake “feeling” lagi.he he..

Contractor dan Government Take gimana? Lebih umum dipakai dalam membandingkan fiscal terms, karena dasarnya pembagian dari persentase profit, lebih gampang diterima dan dibayangkan. Bisa juga dipakai buat “quick look” jadi nggak perlu info production profile, etc. Superior? nggak juga, karena efek “time value of money” tidak kelihatan. Khan bisa diatasi dengan “discounted take”? Iya, tapi khan jadi mirip metoda diatas, karena untuk dapet “discounted take”, harus masuk ke detail cash flow analysis juga. Tapi intinya: secara umum, GT dan CT lebih sering digunakan untuk tujuan perbandingan.

Dari brainstorming saya dengan beberapa kolega, baik di institusi pemerintah, IOC dan konsultan, sebenarnya AGR dan ERR lebih menarik di level decision maker (apa itu AGR dan ERR – lihat posting sebelumya). Philosopinya gini: sebagai investor, uang yang keluar untuk eskplorasi sudah banyak (sunk cost), pada saat dikembangkan nanti (sesuai lamanya periode kontrak, biasanya 15- 20 tahun), ada resiko macam macam: produksi nggak sebaik yang dibayangkan, resiko harga minyak anjlog, disamping juga resiko politik. Sehingga yang jadi prioritas apa? Uang gua (sebagai investor) kembali secepat mungkin. Artinya gua pinginnya akses ke gross revenue atawa AGR (karena adanya: royalty dan cost recovery limit) semaksimal mungkin. Jadi AGR yang tinggi yang jadi prioritas gua!. Ini diskusi dari sama sama kolega yang bukan investor sich. Ya, begitulah, emang nggak ada yang mudah dalam bisnis man, semua parameter tersebut hanya supporting information. Keputusan investasi dipengaruhi banyak faktor…. Good luck!

No comments: