Thursday, May 22, 2008

Cost Recovery, Export Crude atau BBM, etc

rinaldy roy: Mas Benny..saya dapat info dari millist sbb..Cost recovery minyak mentah Indonesia mencapai US$9, 03 per barel, sedangkan rata-rata cost recovery minyak mentah dunia sekitar US$4-US$6 per barel. Jadi, cost recovery Indonesia lebih tinggi sekitar 75 persen -125 persen per barel, dibandingkan rata-rata negara produsen minyak mentah di dunia....Benar nggak yaa? May.22.08 05:12 AM

Pertama, mohon info yang posting di milis tersebut sumber datanya dari mana?, Kedua, bagaimana sumber tersebut menghitung cost recovery per barrel-nya, yang normal khan menghitungnya: ‘total cost’ yang terjadi pada tahun tsb dibagi dengan jumlah total barel yang di produksi sepanjang tahun. Salut juga dengan sumber tersebut kalau memang punya semua data cost setiap negara, karena terus terang untuk beberapa negara, khususnya negara timur tengah dan Afrika, data cost tersebut sangat sensitif…

Saya agak meragukan angka tersebut, angka rata rata-nya juga kelihatan terlalu rendah. Kalaupun itu benar, maka negara tersebut pastilah negara negara dengan upstream cost rendah spt: Saudi Arabia, Iran atau Kuwait. Tentu tidak fair membandingkan dengan negara lain (termasuk Indonesia) yang memang termasuk wilayah sulit (cari minyak), apalagi lokasi deepwater, GOM dan North Sea sana.

Untuk tujuan perbandingan; cost recovery per barrel bisa menyesatkan. Ilustrasinya begini: misalnya country A pada tahun 2006 cost recovery per barrel nya lebih besar dari country B. Apakah itu berarti country A 'lebih berhasil' dari country B? Ya tentu tidak bisa langsung disebut demikian. Bisa jadi Country A mengurangi aktivitas E& P sehingga cost nya turun, sementara country B, sedang banyak aktivitas E &P. Apa yang terjadi tahun depan (atau tahun tahun depannya lagi)? Country B berhasil menahan penurunan produksi, sementara Country A, karena ngirit, produksinya akan “terjun bebas”, nah kondisinya jadi kebalik, dalam per barrel, karena produksi anjlok, cost per barrel country A akan lebih tinggi.. Jadi melihat snapshot spt itu, tidak mencerminkan kondisi yang sesungguhnya terjadi..
-------------------

rinaldy roy: Jadi,agar memenuhi konsumsi dalam negeri tanpa perlu impor, berapa produksi minyak yang harus digenjot..? Dan apakah demand ini, bisa dipenuhi dari lapangan yang ada..? May.21.08 09:53 AM

Negara net exporter besar seperti Iran, UAE , Venezuela pun tetap mengimpor BBM, ini menyangkut refinery economics yang ceritanya bisa agak panjang.. jadi tidak ada rule of thumb nya: berapa seharusnya produksi crude sehingga tidak perlu impor BBM. Seperti negara net expoter besar tsb, kalau ekspor crude lebih untung dari ekspor BBM, ya mending jual crude. Bikin refinery untuk kilang kebutuhan domestik, kurangnya ya tetap impor…
-------------------

Rangga Lesmana: Bang.....sya nubieh nih di blog ini n petroleum industry....mo minta tolong bang.....kira2 abang punya draft tentang analisa kelayakan finansial salah satu proyek migas...yang lama juga ga apa bang...tapi kalo bisa metodenya pengukurannya beberapa ya bang ...biar ada benchmark...plis ya bang ..ditunggu....maturnuwun sebelumnya..... May.21.08 07:41 AM

Dik rangga, saya carikan papernya, yang penting metodologinya khan?
-------------------

Zaki: Mas Benny, ada berita di detik bahwa Kongres AS meloloskan UU Anti OPEC ([LINK]). Any comment? May.21.08 06:58 AM

Di Amrik mah, apa aja yang bisa di sue ya di sue, lumayan kerjaan buat para pengacara, nanti negara2 yang di sue akan sewa pengacara amrik juga, hasil akhir nggak pasti, yang pasti itu duit mengalir buat pengacara amrik juga…
-------------------

Yudi: Pak Benny, walapun KKG dlm tulisan tsb oversimplified, inti pendapatnya adalah Pemerintah dan Pertamina tdk perlu membeli minyak yang ada diperut bumi indonesia , shg dlm perhitungannya hanya biaya lifting. Mana yang lumrah dipergunakan di dunia ? May.16.08 04:48 AM

Saya tidak mempermasalahkan asumsi ini, asumsi yang salah itu menganggap crude masuk kilang semua jadi BBM, sehinga tidak perlu lagi impor BBM…
------------------

Rizki: Pak, saya awam nih mengenai migas, apakah sama definisi dari Supply Cost dengan Cost per Barrel ? Trim's May.15.08 07:10 AM

Supply cost sudah memperhitungkan royalty, profit sharing dan tax yang harus dibayar ke pemerintah, sedangkan cost per barrel, total cost di bagi total recoverable reserves.
------------------
satrio: mas benny, saya ingin tahu penerapan protokol kyoto thd PSC di Indonesia. apa ada informasinya? trims, May.15.08 06:46 AM

Saya nggak update masalah ini, mungkin ada yang lain yang bisa bantu?
-------------------

adhi: Mas benny punya literatur tentang tata niaga penjualan (ekspor dan domestik) minyak dan gas serta tata niaga impor minyak di Indonesia ? Saya mendengar import minyak untuk kebutuhan dalam negeri diimpor Pertamina dari anak perusahaannya di singapura Petral yang kemudian dijadikan patokan penhitungan besaran subsidi. Kayaknya kebutuhan minyak untuk provider BBM dalam negeri seperti shell, petronas juga lewat Petral juga. Kalau informasi itu benar enak ya Pertamina labanya tinggi tetapi APBN defisit. May.15.08 06:28 AM

Mohon maaf saya nggak punya literatur dimaksud. Kalau ada yang kenal orang Petral, mbok suruh kasih klarifikasi, biar nggak timbul prasangka..
-------------------

Ibnu Nugraha Adji: Saya adalah orang yang baru dalam bekerja di Oil & Gas, baru setahun ini saya bekerja sebagai Cost Control di Tangguh LNG Project Papua. Minta tolong diberi saran buku2 atau paper tentang cost control yang bisa saya pelajari untuk menambah wawasan saya karena sepertinya bidang cost control ini sangat menarik dan belum banyak orang di Indonesia yang menguasainya. Terima kasih banyak May.14.08 03:06 PM

Buku yang specific mengenai cost control saya belum ketemu, jarang kayanya. Tapi anywaya kalau nati ada yang info akan saya sampaikan.
--------------------

yapit: Mas Benny ... Saya mo tanya. Seandainya Pertamina mendapat previllage atas share ditiap WK yang ditawarkan (let's say=PI=10%), GOI dalam hal ini lewat Pertamina bisa mengontrol tidak ya kegiatan2 operasional dan keuangan si operator ?? Yang ada sekarang kan PI untuk pemda (yg ga ada dana dan jatohnya ke orang itu2 aja ) jadi daripada mubazir berikan saja ke Pertamina sebagai perusahaan negara. Dinegara lain ada tidak ya yang seperti ini. TX Berat ... May.14.08 08:39 AM

Mengontrol kegiatan operasional dan keuangan ya tidak bisa.. harus jadi operator, dimanapun kalau cuma punya PI, ya ikut rapat rapat awal saja, eksekusi diserahkan ke operatornya.
--------------------

nunut: oh iya satu lagi.. pak beny kalau perusahaan migas yang ada di blok sangata kaltim yang melakukan PSC nama perusahaannya apa? saya sedang menyusun skripsi..trims May.12.08 05:10 PM

Saya nggak hapal nama perusahaannya, minta tolong sama pak yapit tuh.. he he
---------------------

nunut: saya bisa mendapatkan buku akuntansi perminyakan dmn ya pak? saya dah cari kmn2 tp ga ada! bisa ga saya minta kopiaannya? trimakasih May.12.08 05:03 PMT

Kalau yang versi Indonesia dulu saya punya karangannya Pak Haryono, kalau yang terbitan luar, saya punya beberapa, nanti deh kalau saya pulang boleh lah dicopy..

8 comments:

Anonymous said...

Dari pada repot2 dg cost recovery yang pada akhirnya tidak bisa dikontrol, atau terlalu amat sulit verifikasinya, ujungnya negara juga loss tak terkirakan, mbok ya iku anak didik Pertamina yang sekarang sukses, Petronas. Konon ada sistim yang lebih sederhana yaitu dari total produk kontraktor kita menerima 'inkind' minyak mentah x% termasuk DMO. Jadi jika harga minyak naik penerimaan negara juga naik dan sebaliknya. Tapi cara ini banyak merugikan pihak2 yg selama ini 'menikmati' sistim 'production sharing contract'; jadi sulit melaksanakan hal ini. komentar Anda? Elan Dewatono; elandwt@yahoo.com

Benny Lubiantara said...

Mas Elan,

Ada beberapa model kontrak migas di Malaysia, mungkin yang dimaksud ini yang langsung dibagi sekian persen dari gross revenue (termasuk cost) buat kontraktor. Model ini memang gampang dan simpel, saya sering membahas plus dan minus model "tanpa cost recovery" ini. Banyak minusnya juga sebenarnya, apalagi kalau harga minyak tinggi, sebenarnya pendapatan negara bisa jadi lebih jelek dari PSC standard.

Penerimaan negara naik kalau harga minyak naik dan sebaliknya berlaku juga untuk hitungan PSC kita.

Elan Dewatono said...

Pak Benny, kalau ada yang butuh tentang Pembukuan Usaha Perminyakan kebetulan saya punya Petroleum Accounting: Principle, Procedure & Issues, juga kalau yang butuh tentang Financial Feasibility Proyek2 Kilang dll (Downstream)saya punya banyak contoh hitungannya termasuk Kilang Balongan. Sekiranya ada yang memerlukan hub saya di elandwt@yahoo.com atau 08161642657. Terimaksih dan salam.

Benny Lubiantara said...

Pak Elan,

Thanks alot infonya, kayanya banyak yang cari buku tentang akuntansi perminyakan (akuntasi migas), nanti mereka akan saya rujuk ke email bapak

Rgds,
Benny

Anonymous said...

Pak Benny,
Saya mohon info web site tentang harga crude internasional, seperti di website ESDM (esdm soalnya updatenya telat)

tku

Benny Lubiantara said...

Coba lihat beberapa website antara lain: Platts, Argus Media, Dow Jones, Nymex.

Ketik aja dari google..

Unknown said...
This comment has been removed by the author.
Erwinsyah said...

Dear Pak Benny,
Nama saya Erwinsyah. Saya sedang menyusun tesis tentang analisis kelayakan suatu proyek migas di sebuah oil company di Jakarta. Saya sangat butuh sekali paper tentang analisis kelayakan itu seperti Pak Rangga Lesmana di atas sebagai bahan referensi.
Bersyukur sekali jika Pak Benny bisa mengirimkan ke saya.

Terima kasih banyak sebelumnya.