Thursday, June 05, 2008

Pro Kontra Keanggotaan Indonesia di OPEC

Bersama ini saya postingkan 2 tulisan, pertama tulisan Mas Wid (Prof. Widjajono), dan yang kedua tulisan Bapak Dirgo D. Purbo.

Tulisan Mas Wid berjudul: Pentingkah Menjadi Anggota OPEC, sedangkan tulisan Pak Dirgo berjudul: Indonesia keluar dari OPEC atas pertimbangan Geopolitik  “Energy Security”.

Kedua tulisan ini menarik, Tulisan Mas Wid isinya cenderung mengusulkan RI tetap di OPEC. Sementara tulisan Pak Dirgo sebaliknya.
----------------------------------------------

Pentingkah Menjadi Anggota OPEC?
Oleh: Widjajono Partowidagdo
(Guru Besar ITB)

Menjadi anggota perkumpulan apapun, tentunya mempertimbangkan apakah manfaatnya lebih besar dari biayanya. Demikian pula apabila suatu negara menjadi anggota OPEC ( Organization of Petroleum Exporting Countries ) seyogyanya bisa memanfaatkan sebaik-baiknya keberadaanya di OPEC sehingga nilai manfaatnya lebih besar dari iurannya.

Maka pertanyaannya adalah apakah kita sudah memanfaatkan sebaik-baiknya keanggotaan kita di OPEC. Salah satu keuntungan jadi anggota suatu perkumpulan adalah kedekatan dengan anggota-anggota lainnya. Kebanyakan negara anggota OPEC adalah negara yang kaya migas dan kaya uang.

Banyak orang yang tidak kaya ingin masuk sekolah saya di Amerika Serikat, University of Southern California, karena sekolah tersebut dikenal sebagai sekolah anak orang kaya, dengan harapan ingin menjadi kaya. Kalau orang yang tidak kaya ingin dihargai oleh mereka yang kaya sehingga kemudian mereka bekerjasama, tentunya yang tidak kaya harus mempunyai kelebihan, misal lebih pintar, disamping dapat dipercaya.

Sebagai anggota OPEC kita punya kesempatan lebih baik dalam membujuk negara-negara OPEC untuk membangun kilang BBM, petrokimia, LNG, LPG baik di Indonesia maupun di negara-negara OPEC tersebut untuk dimanfaatkan Indonesia dengan dana dari mereka dan bahan baku yang lebih murah dari mereka. Kita dapat pula membujuk negara-negara OPEC untuk menanamkan modal pada Pertamina dan Swasta Nasional untuk mengelola lapangan migas baik di Indonesia maupun di negara-negara OPEC tersebut.

Perlu dicatat bahwa banyak ahli perminyakan Indonesia bekerja di Malaysia dan negara-negara OPEC dan non OPEC. Petronas banyak mendapat dana dari negara-negara anggota OPEC untuk mengoperasikan lapangan di luar negeri dengan mengerjakan ahli perminyakan Indonesia. Kenapa kita tidak menggunakan ahli kita tersebut untuk bekerja di Perusahaan-Perusahaan Migas kita baik di dalam maupun di luar negeri?.

Memanfaatkan semaksimal mungkin keanggotaan kita di OPEC, bukan hanya tugas orang-orang Indonesia yang bekerja di Sekretariat OPEC tetapi juga tugas kedutaan Republik Indonesia di negara-negara OPEC tersebut dan juga tugas Institusi-Institusi terkait seperti Departemen-Departemen ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Keuangan, Perdagangan, Perindustrian, Tenaga Kerja serta Kadin, BKPM, Badan Usaha dan lain-lain disamping diperlukan kebijakan serta iklim investasi yang mendukung.

Seorang rekan, yang pernah menjadi staf di Sekretariat OPEC mengeluh sesudah bersusah payah melakukan lobby di suatu negara anggota OPEC dan berhasil, usaha tersebut tidak berlanjut karena kurangnya koordinasi antar institusi. Ada kelakar bahwa pejabat negeri kita sering tindak-tindak (jalan-jalan) tetapi tindak lanjutnya tidak ada.

Penulis tidak tahu apakah keputusan keluar dari OPEC tersebut sudah final atau belum. Andaikata belum, apakah tidak dipertimbangkan tetap menjadi anggota OPEC tetapi dengan penghematan, misalnya dengan mengurangi pejabat yang mondar-mandir ke Wina.

Hal yang sama, perlu dievaluasi apakah kinerja KBRI di luar negeri sudah optimal atau belum. Penulis pernah mendengar bahwa kedutaan Malaysia di luar negeri lebih sedikit dari KBRI karena suatu kedutaan bisa melayani beberapa negara. Kinerja Malaysia lebih baik bukan hanya karena diplomat-diplomatnya bekerja lebih efektif, tetapi juga karena koordinasi antar instansi pemerintah Malaysia lebih baik karena mempunyai visi yang sama dan birokrasi disana lebih bersahabat bagi investor asing yang mengakibatkan peringkat iklim investasi di Malaysia jauh lebih baik. Menurut Goldman Sachs, 2007 peringkat Malaysia adalah medium risk sedangkan Indonesia adalah very high risk. Ibarat jualan, akan lebih mudah kalau jualan barang bagus.

Indonesia memiliki bung Karno yang mempunyai ide-ide besar seperti Pancasila, Berdikari (Mandiri), Gotong-Royong (Masyarakat Peduli) dan pelopor Production Sharing Contract, tetapi kita lemah dalam implementasi. Pak Jusuf Kalla pernah menyatakan di kediamannya bahwa kita harus Think Big (Berpikir Besar).

Perlu dicatat bahwa Indonesia adalah satu-satunya anggota OPEC di Asia, diluar Timur Tengah. Apabila Indonesia keluar dari OPEC, bukan tidak mungkin Malaysia akan masuk OPEC. Menurut CERA (Cambridge Energy Research Associates), 2007, produksi minyak domestik Malaysia pada tahun 2007 adalah 0,77 juta barel per hari dan diperkirakan akan memproduksi minyak 1,32 juta barel per hari pada 2017. Perlu dicatat Petronas juga mempunyai banyak lapangan di luar negeri, termasuk di negara-negara OPEC dan Malaysia bukan negara pengimpor minyak. Padahal luas Malaysia jauh lebih kecil dari Indonesia, mahasiswa Malaysia dulu belajar perminyakan di ITB, Malaysia meniru Production Sharing Contract Indonesia dan Petronas banyak mempekerjakan ahli perminyakan Indonesia.

Perlu dicatat bahwa Ecuador yang keluar dari OPEC Desember 1992 masuk OPEC kembali Oktober 2007. Produksi Ecuador pada 1995 adalah 395 ribu barel per hari dan pada 2007 adalah 510 ribu barel per hari.

Mohon dipertimbangkan jangan sampai hanya karena menghemat biaya iuran OPEC kita kehilangan potensi manfaat yang lebih besar sebagai anggota OPEC. Hal yang sama, jangan karena kita menghemat cost recovery kita tidak melakukan IOR (Improved Oil Recovery) termasuk EOR (Enhanced Oil Recovery) sehingga produksi di lapangan-lapangan yang sudah ada tidak dapat dipertahankan, apalagi ditingkatkan. Walaupun cost recovery meningkat dari 5,0 milyar dolar pada 2003 ke 5,9 milyar dolar pada 2006 dengan menurunnya produksi minyak dari 1,146 juta barel per hari ke 1 juta barel per hari dan produkasi gas relative tetap 8,3 BSCFPD, tetapi pendapatan meningkat dari 18,2 milyar dolar ke 32,1 milyar dolar serta Penerimaan Negara meningkat dari 10,8 milyar dolar ke 23,1 milyar dolar Perlu dicatat kalau pada Primary Recovery biaya produksi mungkin $5-10 /barel, tetapi dengan EOR biaya produksi bisa diatas $20 /barel. Perlu disadari bahwa apabila harga minyak diatas $100 /barel, EOR pun masih sangat menguntungkan.

Apabila Indonesia sudah memutuskan keluar dari OPEC, kita perlu bekerja lebih baik supaya produksi minyak kita meningkat dengan meningkatnya eksplorasi dan IOR serta program diversifikasi (memakai lebih banyak batubara, panasbumi, Coal Bed Methane, biofuels dan lain-lain) dan konservasi kita berhasil, sehingga kita bisa menjadi net oil exporter dan menjadi anggota OPEC kembali. Untuk itu kita memerlukan kebijakan, peningkatan kemampuan nasional dan kerjasama antar stakeholders di bidang energi yang lebih baik.
-----------
Riwayat Hidup
Widjajono Partowidagdo adalah Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Pengelolaan Lapangan Migas pada Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Sekretaris Komisi Permasalahan Bangsa Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) serta anggota Tim P3 (Pengawasan Peningkatan Produksi) Migas ESDM. Pernah menjadi Ketua Kelompok Keahlian Teknik Pemboran, Produksi dan Manajemen Migas pada Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral ITB, 2005-2007, Ketua Program Pasca Sarjana Studi Pembangunan ITB, 1993-2004, Pembantu Dekan Urusan Akademis, Fakultas Teknologi Mineral serta Anggota Senat ITB, 1994-1997 dan Koordinator Penelitian Pembangunan Berkelanjutan pada Pusat Antar Universitas untuk Ilmu Ekonomi, Universitas Indonesia, 1989-1992.

Mendapat Sarjana Teknik Perminyakan ITB, MSc in Petroleum Engineering, MSc in Operations Research, MA in Economics dan PhD dengan disertasi An Oil and Gas Supply and Economics Model for Indonesia dari University of Southern California, Los Angeles, USA. Menulis dua buku yaitu “Manajemen dan Ekonomi Minyak dan Gas Bumi”, 2002 serta “Memahami Pembangunan dan Analisis Kebijakan”, 2004.

--------------------

Indonesia Keluar dari OPEC atas Pertimbangan Geopolitik “Energy Security”

Oleh: Dirgo D. Purbo

"Indonesia, the only South East Asian member of the Organization of Petroleum Exporting Countries, became a net crude-oil importer early this year after domestic production fell sharply following several years with little fresh investment in exploration and production."

President Republic of Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono said on Wall Street Journal ( October 5, 2005 ).

Setelah tertunda tunda sejak pemerintah mengumumkan kenaikan harga minyak yang untuk kedua kalinya pada tanggal 1 oktober 2005, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan untuk segera keluar dari OPEC begitu pengumuman kenaikan harga BBM bulan Mei 2008. Langkah yang diambil ini, meskipun agak terlambat,merupakan keputusan yang strategis dan dinilai sangat tepat. Terkecuali perpanjangan kontrak ladang minyak Cepu untuk dikelola oleh Pertamina,Untuk kesekian kalinya bahwa Presiden SBY telah mengambil keputusan yang berkaitan langsung dalam konteks prespektif geopolitik energi Indonesia, diantaranya:

1. Tidak menghendaki kerjasama Indonesia dengan Malayasia dalam hal blok migas , Ambalat. Blok Ambalat merupakan bagian dari wilayah Indonesia.

2. Tidak menyetujui Defence Cooperation Agreement. (DCA) antara Republik Indonesia dengan Singapura. Wilayah yang dikehendaki oleh Singapura merupakan kandungan migas dan jalur transportasi migas (SLOC).
3. Tidak memperpanjang kontrak ladang migas antara Pertamina dan, Exxonmobil di Laut Natuna. Kandungan gas alam dikawasan ini sebesar 46,7 tcf.

4. Tidak lagi menyebutkan cadangan minyak Indonesia akan habis 18 tahun lagi, setelah bertahun tahun dinyatakan secara resmi oleh pemerintah sejak tahun 1988.
5. Menegaskan kembali untuk keluar dari OPEC.

Seluruh keputusan strategis ini tidak lain untuk mengutamakan kepentingan nasional Indonesia dalam menghadapi era globalisasi dan juga menghadapi konstelasi tatanan dunia baru pada abad 21. Hal ini juga sejalan dengan pandangan yang disampaikan oleh Deep Stoat dalam kajian strategisnya untuk negara negara maju yang selalu menempatkan aspek minyak sebagai agenda kepentingan nasional dengan mengatakan : “If you would understand world geopolitics today, follow the OIL”. Untuk memperkuat pernyataan tersebut dan mendapat gambaran bagaimana faktor geopolitik energi yang menentukan kebijakan suatu Negara,kiranya dapat dilihat juga pada diagram yang dikeluarkan oleh National Petroleum Council, Amerika Serikat.



Sumber: NPC

Terlihat pada diagram tersebut, ada tiga komponen utama untuk menetapkan suatu kebijakan politik yang berkaitan dengan energi antara lain: Supply,Demand dan Technology. Ketiga komponen ini saling keterkaitan satu sama lain (interchange) dengan landasannya kondisi geopolitik yang mempunyai peran sangat sentral dan strategis. Untuk mendapatkan penjelasan teori teori dasar geopolitik, kiranya dapat dikutip dari pencetusnya yaitu: Professor Friedrich Ratzel (1844-1904) German Professor, Rudolf Kjellen (1864-1922) Swedish, Sir. Halford Mackinder (1861-1946) British. Dari ketiga tokoh geopolitik tersebut dimana masing2 mempunyai penekanan teorinya, namun pada intinya terdapat persamaan esensi yang dapat diringkas sebagai berikut :

It must be regarded as a science bordering on geography, history,political science and international relations. The politician,the military planner and the diplomat can use geopolitics as a method to analyze how geographical factors can be of importants when planning.Geopolitics as the destiny

Kondisi geografis Indonesia, diantaranya sumber minyak mentah, sejak memasuki tahun 2004 sudah tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negri sendiri. Meskipun masih tersedia potensi cadangan energi fosil yang begitu besar, namun dalam hal liquid energi, termasuk gas alam mengalami deficit.

OPEC
Alasan yang mendasar dibentuknya OPEC itu untuk menstabilkan permintaan dunia atas minyak mentah dan kemudian pada tahun 1971 menyatukan penggunaan mata uang dollar untuk transaksi minyak. Seiring dengan permintaan dunia yang terus meningkat,OPEC sudah tidak dapat lagi berperan sebagai stabilisator. Seluruh dunia hanya tergantung kepada perannya Arab Saudi yang mempunyai kapasitas produksi 9,5 juta bph dan itupun masih memiliki kapasitas tambahan produksi sampai 2 juta bph.

Meskipun Indonesia sebagai anggota OPEC ,pada kenyataannya juga selalu tidak dapat mengantisipasi naiknya harga minyak yang sempat menyentuh US$ 138 per barel. Pemerintah selalu hanya bisa terkejut kejut seperti halnya negara negara pengimpor minyak lainnya. Dengan menggunakan data dari OPEC tahun 2005 dibawah ini,memperlihatkan posisi kapasitas produksi dari masing masing negara anggota. Berdasarkan pengamatan data dibawah ini,kiranya dapat disimpulkan bahwa anggota OPEC dapat dibagi menjadi empat katagori :

1. Negara yang memproduksi secara maksimal,bahkan sudah tidak peduli lagi dengan ketentuan kuota al;Libya,Algeria,Iran,Kuwait,Nigeria dan Qatar,
2. Negara dengan kapasitas dibawah kuota; Venezuela.

3. Negara yang masih mempunyai surplus kapasitas produksi diluar batas ketentuan kuota seperti United Arab Emirates dan Arab Saudi.

4. Negara dengan katagori special case seperti Irak dan Indonesia. Irak yang posisinya sudah tidak lagi masuk dalam kuota,sementara Indonesia merupakan negara satu satunya yang sudah menjadi net oil importer.

Salah satu media cetak terkemuka didunia dalam hal pemberitaan industri migas, Oil & Gas journal dalam E-news pada tanggal 31 Oktober 2006 memberikan suatu analisa produksi minyak dari anggota OPEC. Diberitakan bahwa, Arab Saudi, Iran, Aljazair dan United Arab Emirates (UAE) sepakat mulai tanggal 1 November 2006 untuk mengurangi produksi secara proposional sampai 1.2 juta barel per hari (bph) agar output produksi OPEC menjadi 26.3 juta bph. Pertimbangan pengurangan produksi ini dikarenakan adanya kecenderungan penurunan harga minyak yang sangat drastis dari US$75 per barel menjadi US$ 58 per barel. Dari sini terlihat jelas sekali bahwa negara OPEC,khususnya di kawasan Heartland memang menghendaki agar harga minyak kembali berada pada sekitar diatas US$ 60 per barel. Yang menarik dari laporan jurnal tersebut yakni adanya pernyataan yang mengatakan Indonesia tidak akan mengurangi produksinya. Sedangkan negara anggota lainnya seperti, Venezuela dan Nigeria memang mengakui mengalami penurunan produksi. Disebutkan juga bahwa, Dalam catatan OPEC, yang dianggap sudah out of date, Indonesia disebutkan masih mempunyai kapasitas produksi 1,45 juta barel per hari.Padahal kenyataannya Indonesia pada bulan September,2006 hanya mampu berproduksi 862,900 barel per hari.

Energy Reshape Policy
Keputusan Indonesia untu keluar dari OPEC secara phycsiologis memang agak berat, mengingat kebersamaan dan perannya sejak tahun 1962. namun sejalan dengan waktu dan dikarenakan tingkat produksi nasional mengalami penurunan secara alami,tentunya Indonesai harus mengambil sikap. Dan terlebih lagi dikarenakan sejak tahun 2004,Indonesia sudah merupakan bagian dari pemicu tingginya harga minyak internasional dimana ,kebutuhan impor Indonesia mewakili lebih dari 1 % dari tingkat konsumsi dunia sebesar 85 juta bph. Berikut dibawah ini merupakan daftar negara2 pengimpor minyak yang sangat signifikan.

Top World Oil Net Importers, 2004*
Country Net Oil Imports (million bbl per day)
1. United States America, 12.1 million bbl per day
2. Japan, 5.3 million bbl per day
3. China, 2.9 million bbl per day
4. Germany, 2.4 million bbl per day
5. South Korea, 2.2 million bbl per day
6. France, 1.9 million bbl per day
7. Italy, 1.7 million bbl per day
8. Spain, 1.6 million bbl per day
9. India, 1.5 million bbl per day
10. Taiwan, 1.0 million bbl per day

*Table includes all countries that imported more than 1 million bbl/d net in 2004. EIA

Terdapat beberapa agenda politik baru bagi Indonesia dengan keluarnya dari OPEC,diantaranya ;
1. Kebijakan politik Luar Negeri
2. Kebijakan politik Dalam Negeri.

Kebijakan politik luar negeri
Selama periode tahun 2004 sampai tahun 2008, Indonesia dengan mempertahankan diri sebagai anggota OPEC, posisinya seperti tersandera sendiri oleh Negara Negara penghasil minyak lainya yang masih berstatus sebagai net oil exporter.Tersandera dalam pengertian posisi Indonesia untuk melakukan upaya kerjasama jangka panjang dalam hal mendapatkan suplai minyak apakah untuk refinery yang sudah ada maupun dengan membangun refinery yang baru. Para Negara signifikan net oil exporter, mempunyai anggapan terhadap Indonesia,bahwasanya bagaimana mungkin sebagai Negara anggota OPEC,yang selalu disimbulkan dengan pesta Dollar dari windfall profit pada tingginya harga minyak, mengalami shortage untuk memenuhi kobutuhan kosumsi dalam negri. Padahal posisi Indonesia sejak memasuki tahun 2004, sangat membutuhkan impor yang begitu besar ,dengan harga yang relative murah dan tanpa ada mengalami gangguan .Posisi ambiguiti inilah yang membikin sulit bagi Indonesia dalam upaya menjalankan OIL diplomacy dengan negara2 di kawasan Heartland. Terobosan Oil diplomacy yang baru saja dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan melakukan kerjasama dengan Iran perlu dilanjutkan dengan Negara lainya seperti Arab Saudi,Kuwait,UAE,Venezuela,Sudan dan Rusia.

Ada catatan menarik bahwa ketika Raja Arab Saudi,Abdullah melakukan kunjungan ke Cina untuk penandatanganan kerjasama suplai minyak, beliau tidak menyempatkan diri untuk berkunjung ke Indonesia. Ironisnya, beliau malahan berkunjung ke Malaysia, yang notabene bukan anggota OPEC. Mencermati kejadian ini, ada suatu rencana kedatangan beliau ke Indonesia pada akhir tahun 2007 yang dinyatakan oleh Duta Besar Arab Saudi untuk RI setelah melakukan sholat jumat bersama Presiden SBY di mesjid istana ke Presidenan tahun lalu. Sampai tulisan ini dibuat, belum ada lagi berita kelanjutannya. Dengan keluarnya Indonesia dari OPEC tentunya memperlihatkan sikap yang sangat jelas kepada dunia internasional bahwa Indonesia sudah memasuki new emerging country, Haus akan minyak seperti Cina dan India. Hal ini artinya Indonesia akan menunjukan strategi berkompetisi dengan negara2 lainnya untuk mendapatkan akses ke sumber2 energi(baca:minyak mentah). Dalam kondisi ini tentunya Indonesia, sebagai mantan angggota OPEC, yang telah mempunyai hubungan baik selama 46 tahun, akan mendapatkan berbagai keistimewaan, Cina setiap hari impor 720 ribu barel dari Arab Saudi dan terus akan meningkat volumenya sejalan dengan rencana pembangunan dua refinery. Cina saat ini mempunyai produksi 3,5 juta barel per hari(bph) dan impor 3,5 juta bph, menjadikan total konsumsinya setiap hari sekitar 7 juta bph.

Kebijakan Politik Dalam Negeri
Keluarnya Indonesia dari OPEC, membuat berbagai kalangan terbuka matanya bahwa Indonesia sudah tidak lagi seperti eranya oil bonanza atau net oil exporter . Kedepannya, sudah pasti akan sedikit membantu pemerintah untuk mensosialisasikan kenaikan harga BBM kepada masryarakat luas ketika harga minyak internasional sangat tinggi.Disamping itu juga akan membuka jalan lebar bagi pemerintah untuk membangun tenaga nuklir.

Pada waktu Indonesia masih sebagai net oil exporter dizaman orde baru dan tetap melakukan untuk menaikkan harga BBM, hal itu disebabkan harga minyak dunia berada dibawah biaya produksinya. seperti yang terjadi pada tahun 1986. Harga minyak pada waktu itu berkisar antara US$6-8 per barel. Sementara biaya produksi minyak diberbagai Negara industri berkisar antara US$ 8-10 per barel,terkecuali dikawasan Heartland yang biayanya hanya dibawah US$ 1.50 per barel. Melihat situasi sekarang ini, Indonesia harus impor minyak sebesar satu juta barel per hari dan pada saat yang bersamaan juga perlu memberikan harga BBM yang bersubsidi untuk berbagai kelompok masyarakat.

Setelah Indonesia menjadi net oil importer sudah sangat tidak mungkin lagi untuk kembali menjadi net oil exporter, meskipun ladang minyak dari Cepu akan berproduksi atau ladang minyak lainnya. Profil kurva produksi dan konsumsi dibawah ini merupakan gambaran bagaimana Indonesai kedepan akan dihadapi dengan semakin lebarnya jarak antara tingkat produksi dan konsumsi.

Sumber :EIA

Jadi akan menjadi suatu pertanyaan ketika Presiden SBY sudah memutuskan untuk segera keluar dari OPEC, sementara Wakil Presiden JK mentargetkan untuk kembali masuk OPEC dalam jangka lima tahun mendatang pada tahun 2013 (Kompas 30/05/08). Pada tahun 2013 nanti, tingkat produksi Indonesia berkisar hanya 800 ribu bph, sementara tingkat konsumsinya sudah mencapai 1,6 juta bph. Salah satu indikator pemicu tingginya konsumsi di dalam negri yakni dinamika perkembangan demokrasi. Ada 51 partai politik yang akan meramaikan kehidupan demokrasi di Indonesia. Sudah menjadi tradisi kalau melakukan kegiatan kampanye iring irngan dengan menggunakan sepeda motor/mobil. Kegiatan ini tentunya akan memicu konsumsi BBM.



Untuk lebih jelasnya tingkat produksi nasional dapat dilihat pada chart produksi yang dikeluarkan oleh Indonesain Petroleum Association. (IPA). Organisasi inilah yang mengayomi seluruh perusahan minyak beroperasi di Indonesia dan secara periodik memberikan data yang diprojeksikan tingkat produksinya. Kompilasi keseluruhan data ini yang mencerminkan kondisi aktual produksi minyak Indonesia.

Dari titik sini terlihat sangat jelas sekali bahwa masih belum ada keseragaman pandangan dalam perspektif geopolitik energi di Indonesia. Seyogyanya begitu Indonesia mengambil sikap untuk keluar dari OPEC, semua elemen dan masyarakat menentukan langkah strategis berikutnya bagaimana Indonesia meningkatkan stock nasional dari hanya 21 hari menjadi 30 hari atau bahkan kalau perlu mencapai 60 hari dan membuat iklim investasi migas yang harus kondusif. Merancang strategi negosiasi untuk tidak memperpanjang kontrak ladang minyak atau gas yang masih berproduksi. Menggalakkan alternative BBM, seperti biofuel. Sekarang ini ada 22 perusahaan yang telah mendapatkan dukungan dari pemerintah untuk mengembangan BBN,tapi ternyata hanya 3 perusahaan yang dapat berjalan.

-----------
Riwayat hidup
Dirgo D. Purbo,

Lulus dari New York Institute of Technology, Bsc, Industrial Engineering (1983). Bergabung dengan CONOCO INDONESIA (1984–1990) di berbabgi departemen, seperti: Reservoir Engineering, Petroleum Economic, Technical Training dan Production Engineering. Bergabung dengan PETROCORP State oil Comp. Exploration, Fletcher Challenge Group, New Zealand (1990–1996), Resonsible for Field Aquisition, Environmental and member of State Strategic Vision 2000. Managing Director Putraindo (1996–2005), Strategic Consultant for Newmont (2006-2009), Strategic Consultant ICR Antam (2009), Founder of PASKAL,Center of Strategic Studies for National Interests (2003), Strategic Advisor for CSICI-Center of Study Inteligence and Counter Intelligence (2005-2009). Visiting Lecturer of Geopolitic and Energy Security, Graduate Program, National Resillience, Univ Indonesia (2000-2010). Dosen Pembimbing Sekolah Tinggi Intelijen Negara, Geopolitik Energi (2006-2007), Dosen tamu Geopolitik dan Energy Security di SESKOAD dan SESKOAU (2007). Dosen tamu Geopolitik dan Energy Security, Univ Pertahanan RI (2010).

7 comments:

zaki said...

Saya juga menyayangkan keluarnya Indonesia dari OPEC. Setuju banget dg pendapatnya Pak Wid. Saya kok ngerasa bahwa alasan pemerintah memilih keluar dari OPEC utk menyadarkan rakyat & politisi yg 'ngeyel' dg pendapat Indonesia kaya minyak, karena selama Indonesia jadi anggota OPEC, orang2 tsb akan ngotot agar BBM murah (bersubsidi).

GAMIL ABDULLAH said...

Memang banyak kesalahan terjadi di Republik ini karena memutuskan sesuatu dengan pertimbangan yang tidak betul-betul matang. Produksi rerata harian Indonesia yang hanya 930-an ribu bpd itu hanya sekitar 3% dari total produksi OPEC. Barangkali keluarnya Indonesia bagi OPEC tidak signifikan pengaruhnya. Dari segi kepentingan geopolitik paling-paling OPEC hanya sebatas kehilangan seorang teman. Sementara menurut forecast, mulai tahun 2025 nanti OPEC akan semakin mendominasi produksi minyak dunia. Sedangkan bagi Indonesia, mengingat sejak tahun 2004 sudah jadi net-importer minyak bumi, yang jada kekhawatiran banyak pihak adalah keterjaminan pasokan minyak untuk input kilang-kilang Pertamina.

Saat ini paling tidak Indonesia mengimpor sekitar 400-an ribu bpd crude dari Timur Tengah untuk diolah menjadi BBM dan produk turunan lain. Walaupun Dirut Pertamina seperti yang dilansir media masa bulan Mei 2008 lalu mengatakan bahwa meskipun sesama anggota OPEC tetap saja prinsipnya B2B kalau menyangkut kebutuhan Indonesia akan crude, akan tetapi paling tidak - secara psikologis - pasti adalah yang namanya solidaritas atau kesetiakawanan sesama anggota OPEC, sehingga pasokan crude untuk kebutuhan Indonesia tetap aman. Walaupun kita punya uang, kalau keterjaminan pasokan tidak ada, ya tidak ada gunanya juga uang itu. Yang dikhawatirkan lagi, seperti kita sudah maklumi, bahwa dalam banyak hal lobi-lobi Indonesia di dunia internasional masih tergolong lemah. Padahal kekuatan lobi juga sangat besar pengaruhnya dalam mengamankan pasokan energi. Kalau selama ini dengan sesama anggota OPEC saja kita gagal membujuk mereka untuk berinvestasi di Indonesia, baik investasi di hulu maupun di hilir (dengan mendirikan pengilangan), apalagi nanti kalau sudah tidak jadi anggota OPEC lagi.

Anyway saya juga tidak ingin mengatakan setuju atau tidak setuju. Saya hanya berharap semoga saja keputusan ini tidak 'misleading' karena yang saya ketahui isunya sudah bergulir sejak tahun lalu dan sudah berkali-kali dibicarakan dalam rapat kabinet. Yang penting sekarang: (1) fokus pada peningkatan produksi minyak bumi, (2) diversifikasi energi harus dijalankan dengan sungguh-sungguh agar ketergantungan terhadap energi primer berbasis minyak bumi dapat dikurangi, (3) mengamankan pasokan energi untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Regards,
Gamil Abdullah

bowie said...

Apa ini memang benar2x kesalahan manajemen perminyakan di negeri ini?
Atau jangan2x pemerintah sudah tidak melihat untungnya lagi kalo kita tetap bergabung dengan OPEC (ada duit arisannya per tahun :) )

dirgo d purbo said...

Ulasan mengenai perlunya Indonesia keluar dari OPEC dapat dilihat di : dirgopurbo.blogspot.com
semoga dapat bermanfaat dalam memberikan pandangan lain pada konteks kepentingan nasional Indonesia
salam,
Dirgo D.Purbo

Benny Lubiantara said...

Terima kasih Pak Dirgo.

Btw, saya kepingin membeli buku bapak, geopolitik perminyakn, apa sudah terbit?. Kalau sudah nanti saya bisa titip teman untuk dibelikan.

Ananda said...

yah, mau bagaimana lagi....
pemerintah tidak melihat keuntungan devisa yang besar dari licinnya ekspor minyak.

Muhammad yafits suryanata said...

terima kasih pak.. bermanfaat.. membuka wawasan tentang opec dan indonesia