Tuesday, June 30, 2009

Harga Keekonomian Pengembangan Lap. Minyak

Hubungan antara supply cost dan keekonomian lapangan minyak menjadi kompleks karena adanya fiscal regime yang mana masing masing negara sangat berbeda terms dan kondisinya. Saya mencoba membuat hitung-hitungan untuk memperkirakan berapa “biaya minimal” (supply cost) supaya suatu lapangan minyak baru dapat dikembangkan untuk kondisi saat ini.

Saya memfokuskan untuk proyek laut dalam (Deepwater) di manca negara dan juga lapangan di Russia serta Heavy oil di Canada. Russia menarik dipilih karena fiscal termnya sangat ketat, sedangkan Heavy oil Canada dipilih karena biaya operasinya yang besar. Kajian singkat ini diharapkan dapat membantu untuk menerangkan mengapa beberapa lapangan minyak menjadi tidak ekonomis dikembangkan dengan kondisi harga minyak yang rendah.

Untuk studi kasus, empat lapangan di area lokasi laut dalam (Deepwater) dipilih yaitu: di US Gulf of Mexico (GoM), Africa, Malaysia and Brazil. Dua lapangan berlokasi di North Sea dan Russia.

Definisi:
Supply cost pada dasarnya adalah berapa harga minyak (dalam $/per barrel) yang diperlukan untuk merecover biaya biaya yang telah dikeluarkan seperti: biaya capital, biaya operasi; termasuk juga pembayaran royalty, profit oil dan pajak. Pada saat yang sama, investor memperoleh suatu return tertentu.

Beberapa penulis mungkin menggunakan istilah yang berbeda, seperti “break-even price”, atau lebih spesifik misalnya: breakeven price for “X%” post-tax IRR.


Metodologi:
Berdasarkan fiscal terms dari proyek di negara negara yang diplih tersebut, kemudian dibuat model keekonomian proyek untuk perhitungan supply cost.


Beberapa asumsi antara lain:

• Proyeknya: stand alone
• Perhitungan dilakukan dalam dua tahapan. Pertama, berdasarkan asumsi profil produksi dan perkiraan kapan tercapainya produksi puncak, besarnya cadangan yang dapat diambil, dan asumsi umur proyek (dalam kasus ini 25 tahun).
• Berdasarkan asumsi harga minyak, selanjutnya dihitung IRR proyek.
• Pada tahap kedua, berdasarkan target IRR (dalam studi kasus ini digunakan 10% dan 15%), maka dihitung berapa harga minyak untuk memperoleh IRR tersebut dengan menggunakan fungsi “Goal Seek” yang tersedia di Excel.
• Selanjutnya harga minyak ini merupakan supply cost dari lapangan tersebut.

Singkat cerita, setelah dibuat perhitungan sesuai metodologi diatas, diperoleh hasil seperti ditampilkan dalam chart berikut:



Keterangan gambar:
Sumbu vertikal adalah harga minyak (US$ per barrel) yang dalam kasus ini adalah supply cost
.

Lapangan A berlokasi di laut dalam Malaysia, lapangan B di Congo, lapangan C di Laut Utara, lapangan D di Russia, lapangan E adalah lapangan laut dalam di Brazil, lapangan F di Teluk Meksiko dan G adalah proyek tipical proyek oil sand di Canada.

Gambar diatas menunjukkan hasil perhitungan supply cost untuk 10% IRR (warna kuning) dan 15% IRR (warna oranye) yang disortir dari yang terendah ke yang tertinggi. Hasil perhitungan menunjukkan range antara 60 sampai 80 US$ per barrel (WTI) untuk dapat 15% IRR, sedangkan supply cost untuk dapat 10% IRR range-nya antar 43 sampai 64 US$ per barrel (WTI). Fiscal terms & conditions menjadi salah satu faktor yang sangat berperan dalam mempengaruhi tinggi rendahnya supply cost.

Sekedar perbandingan, saya lampirkan perkiraan supply cost dari IEA, World Energy Outlook 2008, kalau kita bandingkan untuk Deepwater dan Heavy Oil, hasilnya nggak begitu jauh; tentu saya lebih akurat (he he) karena modelnya project based dengan memasukkan detail analisa fiscal terms di modelnya.

Source: IEA, World Energy Outlook 2008, page 218


Kesimpulan:
Harga minyak perlu cukup tinggi, supaya eksplorasi migas terus berjalan, supaya teknologi mencari energi alternatif tetap menarik, teknologi efisiensi energi berkembang, supaya orang nggak enak-enakan dengan harga minyak murah, kemudian jadi boros, padahal minyak adalah energi yang tidak terbarukan. Sejarah menunjukkan, apabila harga minyak terus rendah, cepat atau lambat akan terjadi krisis energi. Seperti pepatah bilang, mendingan "bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian", jangan dibalik he he...

12 comments:

Prahoro Nurtjahyo said...

Mas Benny,
Menarik ulasan anda tentang tinjauan ekonomis pengembangan lapangan minyak khususnya di deepwater.

Bagaimana dengan Indonesia, project West Seno (Unocal dulu/Chevron)? Saya khawatir kalau ternyata ada factor X yang membuat tidak ekonomis jika deepwater project dilakukan di Indonesia.

Apakah perhitungan anda termasuk biaya untuk konstruksi platformnya?
TLP West seno biaya konstruksinya sudah membengkak dari yang di anggarkan (hampir dua kali).

He...he...he... memang aneh negara ini...

Suwun mas....

Benny Lubiantara said...

Mas Prahoro,

Perhitungan cost diatas sudah masuk konstruksi platform, infrastructure, etc.

West seno? dulu kebetulan saya ikut rapat2 AFE-nya, capek juga tawar2 an terus.. Tapi masalah utamanya sich di sub-surface, terlalu optimistic..

Banyak cerita di Indonesia urusan gembar gembor duluan, padahal setelah didalami, tak seindah perkiraan awalnya. Nggak cuma West Seno, Lap. jeruk santos pun ceritanya demikian.. akhirnya jeruk makan jeruk...

salam,

blogartik said...

salam kenal dari indonesia

Minyak Angin Aromatherapy said...

Minyak
Angin
Aromatherapy
Mohon maaf lahir dan batiin.
Met idul fitri yach...?!
Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang
MINYAK ANGIN AROMATHERAPY

Hadi Meidiyan said...

Salam,

Pak, Mohon penjelasan soal definisi harga pada judul "Harga Keekonomian Pengembangan Lap. Minyak"

Kenapa Harga menjadi TUJUAN.
Bukankah dalam business itu "Profit" yang menjadi TUJUAN..?

Rumus-nya-kan:
Profit = Revenue - Cost
Profit = Price*Quantity-AVC*Quantity

Apabila Kita menganut ekonomi pasar: Maka harga adalah merupakan faktor yang un-controlable. Karena harga hanya akan dibentuk oleh mekanisme pasar (interaksi antara supply-stock di pasar-demand).

Mohon maaf, Pak..
"Harga Keekonomian," Emang ada...????

Seingat saya dalam teks book pengantar ilmu ekonomi dan mikro ekonomi, istilah keekonomian itu hanya ada pada "keuntungan keekonomian-ekonomis(Profit of Economics)" dan "biaya keekonomian (Cost of Economics)," tidak pernah ada tuh istilah "Harga Keekonomian".

Biaya dalam terminologi ekonomi pun terbagi 3 (tiga), yaitu:
1. Biaya Akuntansi (Cost of Accounting)
2. Biaya Opportunitas (Cost of Opportunities)
3. Biaya Keekonomian (Cost of Economics)

Klo, Tulisan ini dibaca Pak Purnomo Yusgiantoro, saya sangat senang tuh...
soalnya beliau juga dan jajarannya sering sekali mengatakan: ...."harga premium di Indonesia itu di bawah dari harga keekonomiannya"......

Saya juga kurang bisa menerima kesimpulan Bapak :
"Harga minyak perlu cukup tinggi"
1. supaya eksplorasi migas terus berjalan,
2. supaya teknologi mencari energi alternatif tetap menarik,
3. teknologi efisiensi energi berkembang,
4. supaya orang nggak enak-enakan dengan harga minyak murah,
5. kemudian jadi boros,
6. padahal minyak adalah energi yang tidak terbarukan.

Karena: masalah sesuai nomor:
1. itu hanya karena MAsalah Perizinan.
2. itu karena minimnya investasi R&D, inovasi, dan kerjasama dgn university
3. setuju, karena teknologi yg efisien itu akan menekan "cost".
4,5,6. Hal ini kontek nya di demand side. maaf kurang relevan bila di sisi supply mslh ini dibahas.

Demikian, Pak, saya hanya bermaksud untuk belajar dan menimba ilmu dari Bapak. Terima kasih.

ini site profile blog, saya:
http://www.blogger.com/profile/07851358852823309913

Benny Lubiantara said...

Halo Mas hadi,

Thanks comments-nya.

Istlah harga keekonomian memang karangan saya kok, karena saya membayangkan, pada saat kita menghitung keekonomian proyek, untuk dapat IRR sekian %, berapa harga yang diperlukan. Tentu saja kita bisa menghitung IRR berdasarkan harga tertentu. Tapi disini konteksnya, kalau saya investor (perusahaan minyak) berdasarkan MARR perusahaan, berapa sich minimum harga minyak itu. Bukan berarti profit nggak penting (justru karena price itu uncotrollable, kita pingin tahu, paling sial kita masih untung itu pada harga berapa sich?), fokus disini adalah: kalau harga dibawah x $/bbl, saya (sebagai investor) tidak berminat mengembangkan lapangan2 tsb.

Kalau mau definisi, istilah harga keekonomian memang kurang tepat, mungkin lebih tepat dipakai istilah "supply cost" (lihat posting saya tentang supply cost sebelumnya). Saya copy paste dari CERA (Cambridge Energy Research institute), menurut mereka supply cost itu adalah: “the constant dollar price needed to recover all capital expenditures, operating costs, royalties and taxes and earn a specified return on investment”.

Mengenai kesimpulan: masalah eksplorasi tidak hanya masalah perizinan, trend kegiatan eksplorasi berkorelasi dengan harga minyak. Mungkin bisa ditanya dengan orang new ventures, kalau harga jelek, pasti aktivitas turun dan sebaliknya.

Tinggi rendah hasrat untuk riset energi alternatif selalu dikaitkan dengan harga minyak, pada saat harga minyak tinggi, riset semangat, dan sebaliknya

salam,
Benny

anto said...

Menarik ulasannya, tapi banyak yg ga ngerti istilah2nya..., kyknya saya harus blajar banyak nih....
http://radioonlinestreaming.blogspot.com

Be a part of Solution said...

Sependapat dengan mas Benny. Sekarang ini negara penghasil crude yang dominan bisa dihitung dengan jari. Hal ini membuat sebuah kemungkinan pengaturan tingkat Harga dengan mengatur quatity suply. Bukan tidak mungkin lobi-lobi antar negara dan investor minyak digunakan dalam mengendalikan harga minyak agar project mereka bisa mendapatkan harga yg ekonomis. Siapa tahu.. :) Sorros bisa mengatur supply demand mata uang lho yg akibatnya harga mata uang jadi Yo-Yo (istilah mas Benny) hehhe..

Salam,

Be a part of Solution said...

Sependapat dengan mas Benny. Sekarang ini negara penghasil crude yang dominan bisa dihitung dengan jari. Hal ini membuat sebuah kemungkinan pengaturan tingkat Harga dengan mengatur quatity suply. Bukan tidak mungkin lobi-lobi antar negara dan investor minyak digunakan dalam mengendalikan harga minyak agar project mereka bisa mendapatkan harga yg ekonomis. Siapa tahu.. :) Sorros bisa mengatur supply demand mata uang lho yg akibatnya harga mata uang jadi Yo-Yo (istilah mas Benny) hehhe..

Salam,

Hadi Meidiyan said...

Salam,
Pak Benny dan Pak Said.
Terima kasih atas penjelasannya.

Saya sependapat dengan upaya pengaturan tingkat Harga dengan mengatur "quantity supply". Saya kira mengatur quantity supply adalah hal yang controlable/mungkin untuk dilakukan baik bagi industri maupun bagi Pemerintah.

Saya juga sependapat dengan "supply cost".

Saya kira kita sudah saatnya berbuat sesuatu, daripada hanya menunggu dan terus menunggu serta berharap "Harga Pasar" naik dahulu kemudian baru project dimulai, tanpa melalukan sesuatu.

Eksplorasi, pengembangan, dan produksi "jangan sampai ditunda-tunda". Akan tetapi quantity supply ke pasar harus kita kontrol.

Saya kira dimungkinkan untuk industri atau pemerintah membangun "gain storage" /bangker timbun.

Terima kasih.
Jabat erat..

Berta said...

Selamat siang Pak Benny, saya mahasiswa tahap akhir berencana akan menyusun skripsi mengenai Akuntansi Perminyakan, mohon bapak mengirimkan bahan2 dan jurnal yang berhubungan dengan akt perminyakan.
Menurut bapak, apakah lebih baik saya ambil data dari BPMIGAS atau KKKS nya yah.....

Terimakasih sebelumnya bertauli@gmail.com

PT Dwipa Citraperkasa said...

“A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.