Thursday, September 20, 2007

Memperkarakan harga minyak?

Oops judulnya salah nggak ya?, memperkirakan atau memperkarakan? Mungkin tepatnya: memperkarakan perkiraan harga minyak….. Jadi backgroundnya begini, di salah satu milis (indoenergy) ada members yang complaint dan mengajak untuk memperkarakan DESDM karena dianggap “sembrono” memperkirakan harga minyak.

Sebelum kita bahas, mari kita tengok dulu posting posting saya sebelumnya mengenai betapa sulitnya menebak harga minyak dan perkiraan harga minyak oleh beberapa analis kondang pada bulan April 2007 (
disini).

Sekarang coba kita lihat perkiraan dari analis kondang pada bulan April 2007 tersebut: angka rata rata 2007 (dibagian bawah) sebesar $61.66 per barel! Kita bisa melihat: nggak ada satupun analis (pada bulan April tersebut) yang meramal bisa tembus sampai $73 per barel. Ada temen saya iseng tanya: ”apa beda analis sama ”pengamat” mas?, dia jawab sendiri: ”kalau analis membuat perkiraan berdasarkan data yang dimiliki pada saat itu. Sedangkan, pengamat membuat komentar setelah kejadian..” he he..

Sesama analis dari instutisi kondang yang berbedapun forecastnya bisa bertolak belakang, inget cerita saya dulu?, saya singkat aja: Bulan September 2006, saya ikut Oxford Energy Seminar, waktu itu (sekitar akhir Agustus 2006) harga minyak WTI mencapai $73 per barel. Ada 2 konsultan dan investment advisor yang jadi pembicara yang kebetulan topiknya forecast harga minyak, yang pertama, Ivo Bozon dari Mackinsey, hitungan dia menunjukkan harga minyak akan segera turun, alasannya: perkiraan demand tidak sebanyak yang diperkirakan oleh beberapa lembaga riset, sementara tambahan supply akan meningkat pada masa yang akan datang, maka harga minyak akan segera turun ke level 35 -40 $/bbl. Pembicara kedua, Arjun Murti, managing director Goldman, Sachs &Co, judulnya menarik: oil prices and the future: how high is too high?, nama arjun ini populer di kalangan analis karena teorinya yang dia sebut "super spike", dimana dia meramalkan harga minyak akan segera mencapai 105 $/bbl. Apa yang terjadi beberapa bulan kemudian?, harga minyak ternyata turun ke level 60-an $/bbl, teori Arjun dianggap "sampah", apa akan terjadi akhir tahun 2007 atau 2008?, wallahualam, terlalu banyak faktor yang berpengaruh.

Bagi para analyst yang bisa dilakukan hanya fundamental (perkiraan: supply demand dan stock) ditambah risk factors: seperti geopolitik, wheather, refinery bottleneck, aktivitas spekulan di futures market, etc. Ini tentu belum lagi faktor bencana alam yang entah nggak ada yang tahu kapan datangnya? Kalau tiba tiba ada badai di Gulf of Mexico misalnya, ya tentu berpengaruh thd harga minyak, apalagi kalau kejadian tersebut dekat dekat negara produsen dan konsumen besar.

Untuk level negara, sebagian besar negara produsen biasanya pasang harga yang amat sangat konservatif untuk anggarannya (Energy Compass, September 2007). Untuk level IOC juga saya kira perkiraan harga minyak yang mereka pakai untuk proyek proyek kedepan masih sangat konservatif, untuk test keekonomian bisa jadi masih menggunakan level 40 - 50 $ per barrel, beberapa mungkin lebih konservatif lagi.

Menebak harga minyak memang susahlah, nggak ada jaminan analis kondang sekalipun bisa ”tokcer” meramal harga minyak, kalau sering bener tentu udah jadi milyuner dia. Seandainya forecast meleset, apa harus diperkarakan? Kaya kurang kerjaan aja ah..!!

2 comments:

info said...

Bonjour, Pak Benny,
Saya Erwin Dwi Hartantyo,mahasiswa univ. airlangga jur HI yang sedang menulis skripsi dengan judul "dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap kebijakan Indonesia keluar dari OPEC"

yang ingin saya tanyakan
1. bagaimana hubungan kenaikan minyak dunia dengan kebijakan keluar dari OPEC?
kalu saya melihatnya sebagai pendukung kebijakan pemerintah (menaikkan BBM juni lalu, kan kluar OPEC MEi) dalam menegaskan kepada masyarakat bahwa Indonesia adalah negara yang tidak lagi kaya akan minyak. kasarannya, kita kan bukan OPEC lagi, wajar donk, kalo BBM kita mahal...any comment??
2. dengan adanya windfall profit atas kenaikan harga minyak dunia, kira2 dikemanakan ya keuntungan penerimaan negara itu??kok ngga ada juntrungannya??apa untuk cadangan devisa?bayar utang LN?ato dikorup??(uppzz...)
3. lagi2 cost recovery...umum nya bagaimana menghitung cost recovery dengan KPS(kontraktor)?
4. menurut bapak, apakah data pemerintah (tentang APBN ini) valid untuk dijadikan patokan penerimaan negar, subsidi, dll??
5. ada masukan dengan judul saya pak?
email: tyok_j3mpol@yahoo.com
mercibeaucoup...

Benny Lubiantara said...

Halo Mas Erwin,

1. Saya kira alasan utama RI keluar karena kita sudah net importer. Harga minyak tinggi kemaren, mungkin hanya menjadi trigger untuk keluar saja, karena kita ada masalah dengan membengkaknya subsidi BBM.

Kalau mau lihat perbandingan harga BBM di mancanegara lihat disini:
http://www.gtz.de/en/dokumente/en-international-fuelprices-part1-2007.pdf

mulai halaman 40.

Memang di negara OPEC, harga BBM subsidinya sangat besar, tapi di negara penghasl minyak NON OPEC pun, banyak juga yang subsidinya besar, sebaliknya produsen besar spt Russia, malah kebijakannya sebaliknya. Norway yang produksinya besarpun, boro2 ada subsidi.. Subsidi harus dilihat dari kacamata kebijakan politis, tidak melulu hitung hitungan ekonomis.

2. Masuknya ke penerimaan negara, dikemanakan?,ya tanya Menkeu lah yang tahu detailnya he he..

3. Hitungan cost recovery lihat di posting saya tentang cost recovery..

4. Mau pakai data mana lagi, yang paling tahukan pemerintah ..

5. Mengenai judul, spt point 1, harga minyak tinggi (saat itu)mungkin punya pengaruh thd putusan RI keluar OPEC, tetapi itu bukan penyebab utama. Cepat atau lambat, dengan posisi RI sebagai net importir (dan net impotirnya cenderung akan makin besar, dengan turunnya produksi dan meningkatnya konsumsi DN). Ya akan keluar juga, regardless harga minyaknya...

Benny