Saturday, June 09, 2007

Mark-up Cost Recovery?

Ada yang email, tanya: Mas, saya udah baca blog nya khususnya mengenai cost recovery, kata mas benny, kalau ada mark-up, yang rugi tidak hanya Negara tapi juga Kontraktor, terus katanya yang untung itu oknum.. Terus terang saya kurang paham, bisa lebih diperjelas dengan contoh yang ada angka angka biar lebih clear, matur nuwun mas..
------------------
Kayanya banyak yang tanya mengenai cost recovery ini, jadi gini, kalau cost recovery naik, jangan selalu di konotasikan sebagai mark-up. Kalau harga minyak naik, terus harga harga komoditi penunjang migas dan jasa penunjang ikutan meningkat biayanya - ya tentu cost recovery akan meningkat.. Supaya fair kita jangan semata mata melihat nilai nominalnya, karena pada saat yang sama revenue juga naik, makanya saya lebih senang melihat cost recovery itu sebagai persentase dari Gross revenue, karena itu udah mengakomodasi kenaikan harga minyak dan juga kenaikan biaya upstream yang selalu ikut ikutan kalau harga minyak naik…

Kembali ke pertanyaan si Mas ini, mungkin yang dimaksud itu adalah investasi atau kegiatan yang nggak penting yang dipaksa diada-adain sehingga cost jadi naik, ya boleh boleh aja disebut mark-up.. Tapi ini khan kerjaan oknum, dimana mana pasti ada oknum lah mas (spt saya pernah posting sebelumnya), mau di Contractor, Service Company, Host country.. Mereka ini yang diuntungkan kalau terjadi mark-up, istilah kerennya “goldplating” alias investasi yang nggak perlu.., oke deh kita jelasin pake angka angka , biar rodo jelas..

Lihat gambar dibawah (ada oknumnya he he), Ceritanya gini, biar gampang, anggap aja gambar disebelah kiri sebelum ada “goldplating”, sebelah kanan, ada goldplating sebesar $1, (cost naik dari $39 jadi $40).

Nah siapa yang untung kalau cost naik? Kita lihat negara (host country) dulu, jelaslah tekor, turun dari sebelumnya $51.85 jadi $51 (turun $0.85). Contractor bagaimana? profit oil Contractor turun dari $12.32 jadi $12.06, otomatis tax juga turun dari $7.19 ke $7.07 (total after tax profit oil Contractor turun $0.15 – kalau nggak pas $0.15 itu karena ada faktor pembulatan).

Jadi dari kenaikan biaya $1 itu, Contractor (maksudnya yang punya company) rugi dan yang lebih rugi lagi (tentunya) Negara. Yang untung siapa? Ya itu tadi Oknum.. $1 goldplating atau mark-up itu larinya ke oknum Contractor, tentu saja bisa bekerjasama dengan oknum oknum lain… Jadi gitu, mudah2 an rodo jelas kalau pake angka gini.. sing penting jangan ikutan jadi oknum ya mas he he..

2 comments:

abang said...

mas maaf nih saya awam. kalau kebijakan internal perusahaan, seperti menyekolahkan pegawai, fasilitas lux pegawai dan direksi, sah2 sajakah dimasukkan ke cost recovery??
Bukankah perusahaan juga diuntungkan karena bisa memberikan fasilitas ke pegawai atas expense pemerintah?
Makasih lho mas

Benny said...

Menyekolahkan pegawai nasional, kasih bea siswa masyarakat sekitar, bangun sekolah dan program Community Dev lainnya, syah syah saja masuk cost recovery, khan Contractor juga berkorban dengan berkurangnya profit oil bagian mereka, sementara yang memperoleh manfaat jelas masyarakat sekitar, bea siswa khan mencerdaskan anak bangsa.

Yang nggak boleh itu bikin bikin proyek yang nggak jelas, bule travel bolak balik untuk urusan receh2 padahal bisa diselesaikan lewat email atau tele conference, pesta2 di head office dan yang aneh2 lainnya.

Kalau yang jelas aneh, lebih gampang diidentifikasi, kalau bikin proyek yang ngga ada nilai tambah, Anda harus cukup pintar untuk mengendusnya, makanya saya bilang perlu jam terbang, teman2 yang pernah kerja atau sedang kerja di KKS biasanya cukup paham dengan modus proyek2 nggak jelas ini.

Untuk "mengawasi" cost recovery, tidak cukup dengan semangat nasionalisme, tapi Anda juga harus paham benar lika liku operasional, teknis dan bisnis migas. Perlu jam terbang-lah! Kalau cuma bilang, nggak boleh cost recovery proyek ini! itu cara preman.. Anda harus punya justifikasi teknis untuk menyatakan proyek ini tidak perlu dilakukan, ada analisa cost- benefit, etc.