Friday, September 01, 2006

keekonomian proyek upstream

Pada saat Anda disuruh menghitung keekonomian proyek hulu migas, tentu caranya bisa macem macem: bikin sendiri pakai excel, dibikinin sama company (udah ada template dari head office, tinggal ganti ganti inputnya) atau pakai commercial software yang banyak tersedia dipasaran. Jadi tergantunglah, kebanyakan sich sudah tersedia, tinggal utak atik yang yang sudah ada, malah kadang kadang nggak tahu siapa yang dulunya buat, bisa jadi orangnya udah pensiun atau udah pindah company lain. Ada juga yang pakai software, tinggal masukin input, keluar hasilnya, enak nggak capek, pokoknya dapet economic parameter sekian, kalau pakai software biasanya lebih fancy, dilengkapi dengan grafik, table, chart warna warni, langsung keluar sensitivity, tornado, spider (man ?) diagram, pokoknya lengkap deh !, tapi fancy belum tentu jaminan Anda puas, apalagi kalau nggak tahu persis “dalamnya” kaya gimana sich.

Kalau iseng, coba aja commercial software itu diuji dengan hitungan hitungan sederhana dulu, hasilnya keluar aneh aneh nggak, jangan langsung percaya aja, kadang kadang saking canggihnya commercial software itu. Hitungan yang sederhana bisa keluar hasil yang aneh. Saya pernah nge test petroleum economics software, nggak usah disebut namanya, saking canggihnya, bisa mengcover semua fiscal terms seluruh dunia, pas saya test, karena yang saya inget di kepala (bukan inget diluar kepala lho.he he.) PSC Indonesia, ya udah test pake model Indonesia aja, eh ternyata, nggak begitu memuaskan, banyak yang nggak update dan perhitungan cash flow agak nggak bener juga, saya tanya sama consultant, jawabannya nggak begitu meyakinkan, saya nggak nge test terms negara lain, cuma saya mikir, karena kebanyakan negara kali, jangan jangan copy-paste aja nih he he, bukan negative thinking lho, mungkin yang baik juga banyak, tapi ini real experience sich!.

Saya jadi inget, dulu pernah baca paper SPE, judul lengkapnya: SPE 68588 A Comparative Analysis of 12 Economic Software Programs, John D. Wright/Questa Engineering Corporation and Robert S. Thompson/Colorado School of Mines.

Ceritanya mereka berdua ini membandingkan 12 software petroleum economics, tentu ada latar belakangnya kenapa iseng membandingin segala. Mereka berangkat dari hipotesa bahwa software project economics seyogyanya memberikan jawaban yang sama kalau diberikan data yang sama. Hipotesa ini kemudian diuji dengan memberikan problem yang relatif sederhana ke beberapa orang yang bekerja di industri perminyakan dengan menggunakan beberapa macam software. Hasilnya mengejutkan, ternyata output yang diperoleh menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Society of Petroleum Evaluation Engineer (SPEE) - ini cabangnya SPE yang focus ke masalah masalah commercial dan ekonomis dari bisnis upstream, menemukan bahwa perbedaan itu timbul karena kombinasi dari asumsi yang tidak disebutkan (unstated assumptions), perbedaan interpretasi dari berbagai parameter, perbedaan perlakuan dari faktor faktor tertentu seperti discounting dan escalating, etc, etc.!

John Wright dan Robert Thompson ini kemudian menindaklanjuti dengan melakukan pengujian terhadap 12 commercial software yang biasa dipakai di industri hulu migas, yaitu:

• Artesia Data Systems - PEEK
• Doug Boone - ToolKit
• Ensyte - Ensyte
• IHS Energy - PowerTools
• Landmark Graphics - ARIES
• Merak Projects - Peep
• Molli Computer Services - MICA
• OGRE Partners - OGRE
• PRMI Software - EUREKA
• SCAI - FEGS
• T&E Garland - What-if
• TRC Consultants - PHDWin

Mereka mendisain 30 test cases untuk melihat berbagai aspek keekonomian, seperti: Discounting, Managerial Indicators (IRR, P:I), Escalation, Decline Curves, Multiple Rates of Return, Secondary Streams, Incremental Analysis, Reversions dan Overrides. Hasilnya: pertama, dari sisi terminologi, ternyata banyak sekali perbedaan istilah yang digunakan, jumlah hari dalam setahun asumsinya beda beda, timing of cash flow juga beda beda, singkat cerita, karena “unstated assumptions” itu maka timbulah perbedaan. Makanya, kalau kita nggak paham benar malah jadi bingung. Menggunakan istilah sendiri sendiri dalam basic economics terms itu tentu bikin orang jadi bingung, sehingga perlu standard supaya kalau ngomong sesuatu, “makhluk” yang dibayangkan tuh sama!.

Jadi, kalau beli commercial software itu ya ditanyain benar asumsinya kaya apa, apa keterbatasannya (jangan cerita yang bagus bagus aja), terminology economic terms dijelasin supaya nggak bingung, syukur syukur kalau pelayanan dari yang jual software juga bagus, clear lah kalau diminta menjelaskan. Temen saya pernah cerita pengalaman, dia beli software A, kebeneran si marketing-nya paham betul sama product-nya, sehingga enak penjelasannya, suatu saat pas dia ada pertanyaan mengenai software ini, dia contact lagi si marketer ini, eh jawabnya, “wah saya sudah nggak jual software A, sekarang saya di PT X yang jual software B, saya nggak tahu siapa yang ngurusin software A sekarang”, nah lho!

Kalau masalahnya nggak njelimet, proyek rutin dan nggak begitu banyak, mending bikin sendiri aja mas pakai excel, kecuali kalau Anda kerja di new ventures atau business development yang perlu nge –run economic banyak negara, misal: Afrika, Caspian Countries, Middle East, etc, mungkin Anda nggak punya waktu ngumpulin informasi mengenai terms & conditions petroleum fiscal masing masing negara, buat model economicsnya pula tentu perlu waktu lumayan, ya nggak sempat ngejer deadline manajemen dong, ya bolehlah pakai commercial software… cuma jangan lupa, rajin nanya!. Emang sich, kalau perusahaan gede, biasanya nggak boleh bikin bikin sendiri, pakai yang sudah disediakan biar konsisten dengan yang dipakai worldwide!

6 comments:

Anonymous said...

Keren,,tulisan nya menyenangkan untuk dibaca,, karena belum selesai bacanya (ma'lum baca nya sambil ngerjain yg lain) jd blm bisa comment banyak..
plus gambar" kotanya yang menarik..

Anonymous said...

"dulu pernah baca paper SPE, judul lengkapnya: SPE 68588 A Comparative Analysis of 12 Economic Software Programs, John D. Wright/Questa Engineering Corporation and Robert S. Thompson/Colorado School of Mines."

Mas masih punya paper tentang ini engga.. bisa di share engga..
emailku : d3vi_ayu@yahoo.com
Makasih banyak ya.. salam,devi

Benny Lubiantara said...

Hi Devi, kayanya sich saya masih punya paper itu, nnati saya kirim ke email..

dini said...

ngomong2 soal software, kalo software GEM sama pathfinder gimana tuh pak?

Anonymous said...

maaf sebelumnya Bapak Benny..saya seorang mahasiswa teknik perminyakan di salah satu Universitas Swasta..
sekarang ini saya sedang ada tugas FDP/POD,dan saya bertugas di bidang keekonomian..yg ingin saya tanyakan,dalam melakukan pengembangan suatu sumur maka ada biaya2 yang harus dikeluarkan, entah itu infill drilling, re-perfo atau juga KUPL..kira2 saya bisa mendapatkan gambaran harga tersebut darimana ya pa?saya bingung jg untuk mendapatkan harga2itu darimana..mungkin Bpk Benny memiliki anjuran atau saran2..
sebelumnya terimakasih Pa benny..

rifqi said...

Selamat siang, Pak Benny..

Tulisan di blog-nya sangat bagus2 pak, terus terang melalui tulisan bapak, telah menjawab beberapa pertanyaan2 di benak saya mengenai keekonomian migas berikut pendalaman dan prakteknya.

Sehubungan dengan tulisan (post) yang ini pak, se-pengalaman bapak, mohon pencerahannya pak untuk software petroleum economics analysis yang bapak rekomendasikan untuk saat ini (dirasa baik/bagus sampai saat ini) yang mana pak?

Kalau diperbolehkan pak, mengenai paper SPEE, berjudul: SPE 68588 - Comparative Analysis of 12 Economic Software Programs, apakah boleh minta share juga pak untuk saya?

rifqihazazi.setiawan@gmail.com
Terima kasih banyak pak Benny,
Salam..